Tragis

Syahdan saiya-pun cuman bisa menepuk jidat saiya. Disaat dini hari tadi saiya nungguin El Classico jilid 1 di musim ini, mendadak terjadi hiruk-pikuk pemberitaan di televisi terkait dengan ditangkapnya “Sang Presiden” salah satu parpol oleh petugas KPK.  Ceritanya, yang bersangkutan “patut diduga kuat” terlibat dalam kasus penyuapan.  Wajar atau ndak tindakan saiya yang nepuk jidat itu, saiya ndak teu. Namun….bila entar itu benar-benar terbukti secara meyakinkan di pengadilan, maka alasan saiya menepuk jidat saiya sendiri ini tentunya pada saatnya akan bisa dipahami sebagai tindakan yang wajar tanpa pengecualian. Dan sejenak pemberitaan tentang hingar-bingar sebelumnya tentang banjir Jakarta, meninggalnya  anak dibawah umur akibat tindakkan bejat bapaknya sendiri itu…sampai dugaan penyalahgunaan obat-obatan terlarang seorang artis tenar di negeri ini pun berkurang gaungnya. Semua tajuk pemberitaan di media massa hari ini membicarakan masalah “Sang Presiden” yang berinisial “LHI” itu.

Apa lacur…nasi udah menjadi bubur.

bubur Baca lebih lanjut

Tegar dan Sok Bijak

laki-lakiSaiya ndak teu, apakah yang saiya tulis kali ini ada manfaatnya buat sampiyan atau endak….- namun, kalau dilihat dari susunan kalimatnya, kayaknya cukup lumajanlah untuk sekedar me-refresh-kan sejenak hati dan benak.  Sebenarnya ini adalah “kumpulan status” yang saiya pajang di wall facebook saiya dalam kurun waktu tertentu di beberapa bulan yang lalu. Saiya mencoba mengingat kembali suasana kebatinan saiya pada saat menuliskan status-status itu…, ternyata ndak ada satupun yang saiya ingat :mrgreen:   Tapi kalau sampiyan berkenan meluangkan sedikit waktu untuk agak serius dalam membacanya, maka sampiyan akan bisa menangkap apa yang saiya maksudkan. Jahh…minimal bisa menduga-dugalah :lol:

Anyway…, ini cuman permainan logika dari dari beberapa kata bijak yang sering dikutip dalam sebuah percakapan atau serangkaian aksi penyemangat yang diperdendangkan oleh seseorang yang kondisi kadar kebijakannya kebetulan lebih baik terhadap yang lainnya pada suatu masa. Saiya katakan pada suatu masa, karena saiya meyakini bahwa setiap orang tentunya pernah mengalami “gangguan mental” akibat permasalahan yang melanda atau kesusahan yang mendera. Bahkan seseorang seperti Andri Wongso, Tung Desem Waringin, Gede Prama atau orang sekaliber Mario Bros Teguh pun dalam episode kehidupannya pada beberapa bagian pernah hati dan pikirannya kalut kalau ndak percaya silakan tanya ajahh sendiri pada mereka. Dan pada umumnya,  jika seseorang ndak isah memotivasi dirinya sediri ketika terjerembab di padang duka, seseorang akan mencoba mencari kata-kata bijak untuk meningkatkan kadar semangatnya supaya terhindar dari upaya mengakhiri hidupnya sendiri tanpa bantuan orang lain a.k.a bunuh diri.

Baca lebih lanjut

Balada Musik Dangdut (Jangan Tanyakan Mengapa – jilid 2)

dangdut1Lhahhh…kok bisa begidu yak..??” – Pertanyaan seperti ini atau sejenisnya sering-kali hinggap di benak saiya menakala melihat kesukaan seseorang terhadap sesuatu hal atau ketika mendengar pernyataan seseorang tentang kesukaannya itu. Awalnya saiya geleng-geleng kepala, kemudian nepuk jidat dan berakhir di ngelus dhadha. Namun sekarang ini saiya sudah nyampai pada tingkatan “bisa memahami” atau setidaknya berusaha untuk bisa memahami tentang hal tersebut.

Jahh…seperti yang saiya bilang di postingan sebelumnya, bahwa ketika saiya mempertanyakan “mengapa”-nya atas kesukaan seseorang  terhadap sesuatu hal yang mereka sukai – yang menurut saiya ada unsur keanehan dalam hal kesukaanya tersebut, maka yang saiya dapati biasanya adalah jawaban yang ndak masuk akal bin terkesan susah dinalar dan menyimpang dari jawaban orang pada umumnya. So, kalau saiya tetap mempertanyakan “mengapa”-nya, maka ketersia-siaan atas kinerja benak saiya akan terjadi dengan sukses dan hati saiya akan ter-dzolimi. Akhirnya, sumangga kersa – silakan saja, selama itu ndak ngeggangu saiya.

Baca lebih lanjut

Antara Joko Wi, Banjir Jakarta dan Saiya

Aah….! Nya’ banjir!
Jakarta kebanjiran, di Bogor angin ngamuk
Ruméh ané kebakaran garé-garé kompor mleduk”

…. dari kejauhan Bang Bens menyenandungkan lagunya.

jakarta

Baca lebih lanjut

Jangan Tanyakan Mengapa

njepretIni bukan soal gaya-gayaan atau sok kaya, jika kemudian saiya punyak kamera yang ndak isah disakuin berjudul Sony SLT A-35. Ini urusannya dengan masalah kesukaan. Namanya suka, maka “menguber” adalah konsekuensi logisnya. Seperti halnya orang yang suka golf (misalnya). Para Golfer inipun juga selalu ingin menguber waktu luang untuk mukal-mukul bola di padang rumput dengan tongkat pemukul yang harga satu bag-nya boleh dibilang ndak murah. Bahkan, bila ndak ada waktu luang-pun….kadang yang rasa sukanya udah ndak ketulungan (addict) akan berusaha untuk meluang-luangkan waktu yang ada. Hari minggu yang disebut oleh banyak orang sebagai hari tidur nasional atau hari keluarga sedunia tetap akan dihajar untuk ber-golf-ria. Saiya rasa para penyuka kegiatan lainnya juga ndak begidu jauh beda kelakuannya.

Baca lebih lanjut

Wuaaaaasyuuuu….

wass“Hari ini mbayar, besok gratis” – Jahh…. ungkapan suka-suka ala angkutan berbayar ini memang sangat “menggemaskan”. Bak sebuah janji bahwa ke-gratis-an itu bakalan didapatkan di kemudian hari, padahal kenyataannya hal tersebut ndak akan pernah terjadi – bahkan sampai kiamat tiba. Namun lutjunya, ketika baru pertama kali mbaca kalimat tersebut, secara ndak sadar otak ini telah terakuisisi oleh harapan sesaat yang menggiurkan itu tanpa ampun. Cuman sesaat, setelahnya….,“Wuaaaasyuuu…” – pada sebagian orang, demikian-lah yang akan mereka katakan kemudian.  Jahh, sungguh sangat cerdas yang menciptakannya.

Pada suatu ketika Pak Joko Widodo (JokoWi) berhasil memenangkan hati rakyat Jakarta dan didudukkanlah beliau di kursi DKI-1. Maka munculah banyak harapan. Dan harapan itu semakin menjadi-jadi dikala aksi blusukannya diekpose secara membabi-buta olah beberapa stasiun televisi. Sehari-tiga kali, itu minimal…. Pagi – siang – malam, bak minum obat saja. Bahkan di dini hari ada sebagian stasiun TV yang menayang-ulangkannya. Semuanya terhanyut dan secara ndak sadar pulak para warga Jakarta telah melabeli JokoWi sebagai seorang “pesulap” selain sebagai gubernur. Apakah ini cuman harapan sesaat atau berkelanjutan? – ndak tahu. Tapi yang jelas, sampai saat ini belum ada yang mengatakan “wuaaaaasyuuu”….meski Jakarta masih bersahabat erat dengan sang banjir dan si kemacetan. Jahh, sungguh sangat penyabar warga Jakarta sekarang. Baca lebih lanjut

Kembali ke Kitah

farel2013Semoga masih ada yang mau mbaca.

Jahh… udah lama juga saiya ndak mbikin postingan di blog ini. Terakhir tertanggal 11 Desember 2011 dan sekarang udah mendekati pertengahan Januari di tahun 2013. Setahun lebih sebulanan-lah blog ini saiya anggurkan begidu saja.  Fyuuhhh…. alamakjang! (kira-kira kalo saiya bikin postingan lagi, ada yang mau mbaca ndak yak…??)

Semoga masih sakti.

Kerjaan dan kesibukan di bidang lain yang membuwat sense of nge-blog saiya ini terkebiri tanpa ampun. Dan udah pasti ini berdampak pada tingkat kesaktian saiya dalam mengolah kata-kata menjadi sesuatu kalimat yang ada maknanya. Jahh… adakalanya kesaktian itu adalah anugerah dari Yang Maha Pemberi Anugerah, tapi kebanyakan kesaktian itu didapat karena latihan yang terus-menerus dan berkelanjutan. Kayaknya kesaktian saiya dalam berolah-kata bukan karena anugerah dah…- jadihh saiya harus lebih sering latihan untuk hal yang satu ini. Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: