Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring. Tetapi bukan tidur, sayang. Sebuah lubang peluru bundar di dadanya. Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang.
Dia tidak ingat bilamana dia datang. Kedua lengannya memeluk senapan. Dia tidak tahu untuk siapa dia datang. Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang.
Wajah sunyi setengah tengadah. Menangkap sepi padang senja. Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu. Dia masih sangat muda
Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun. Orang-orang ingin kembali memandangnya. Sambil merangkai karangan bunga. Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring. Tetapi bukan tidur, sayang. Sebuah peluru bundar di dadanya. Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda
[Pahlawan Tak Dikenal-Toto Sudarto Bachtiar-1955]
****
Kami hanya ingin titipkan bangsa ini kepada Kamu semua….
Jagalah jangan sampai binasa
Rawatlah jangan sampai berantakan
Pertahankanlah sampai titik darah penghabisan
Seperti yang dulu pernah Kami lakukan
Bendera itu Kami tancapkan dengan tidak mudah
Banyak linang air mata Kami tumpah
Tidak sedikit harta benda Kami musnah
Bahkan tubuh ini Kami relakan dikandung tanah
Demi satu kata : M E R D E K A !
Sekarang Kami memang sudah tiada
Tapi dulu Kami pernah selalu ada
Di setiap denyutan nafas bangsa
Di kala Ibu Pertiwi meminta
Kami senantiasa memenuhi panggilannya
Apakah permintaan Kami ini berlebihan..??
Apakah kenginan Kami ini terlalu mengada-ada..??
Tidakkah Kamu melihat apa yang telah Kami korbankan..??
Ataukah Kamu memandang apa yang telah Kami lakukan tidak ada artinya..??
Lalu.. mangapa Kamu masih enggan memenuhinya..??
Andai saja Kami masih bisa menjaga
Andai saja Kami masih bisa merawat
Andai saja Kami masih bisa mempertahankan
Tidak akan Kami titipkan bangsa ini kepada Kamu semua
Sayangnya Kami memang sudah tidak bisa
Sudah Kami bebaskan Bangsa ini dari jerat penjajahan
Sudah Kami berikan padamu kemerdekaan
Jika Kamu menghargai perjuangan Kami semua
Buatlah Kami tersenyum bangga
Jangan biarkan pengorbanan Kami sia-sia
Kami sudah selesai, kini Kamu-lah yang melanjutkan
Bisakah…??
Filed under: Edisi Merah Putih Ditandai: | merdeka, pahlawan, Puisi, sajak, syair






puisi Pahlawan Tak Dikenal itu nyundut tumpukan memori saat mantan pacar saya ikut lomba deklamasi
makasih, pak
Wehh… kapan tuhh..?? dimana..?? Jangan2 pernah sepanggung dgn saya…. Dulu waktu smp saya juwega pernah ikutan lomba baca puisi… dan puisi ini juwega nyang saya baca.
*Ternyata kita punya memori nyang sama ttg puisi ini..**
semoga kita tetep bisa menjadi bangsa yang tdk durhaka kepada para pahlawan, bung serdadu. semoga kita selalu ingat adagium: bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati pahlawannya. btw, puisi toto sutarto bachtiar nyarus menjadi puisi klasik, bung. kata2nya sederhana, tapi sangat menyentuh. setiap lomba 17-an, puisi tersebut seolah2 menjadi puisi wajib!
Yup Pak… mudah2an pada ndak lupa.
Mau nostalgia ajahh dgn puisi “Pahlawan Tak Dikenal”-nya Toto Sudarto Bachtiar ajahh Pak.
Waktu SMP saya pernah ikutan lomba baca puisi se- ex karisidenan Surakarta tapi ndak menang Pak
ok maju..truss..serdadu95…merdaka..bos..
NEGERI INI BUTUH PEMIMPIN BUKAN PEMIMIPI
NEGERI INI BUTUH PEJUANG BUKAN PECUNDANG
NEGERI INI BUTUH REVOLUSI KARENA KOLONI-KOLONI YANG BERSEMBUNYI DI BALIK SISTEM BIROKRASI
NEGERI INI TAK BUTUH SEJARAH JIKA HANYA MENJADI DONGENG SEBELUM TIDUR, SEJARAH YANG MENJADI NILAI PERADABAN DAN ADAB
BUKAN PARA GURU ATAUPUN DOSEN-DOSEN YANG DUDUK MANIS MENDENGARKAN ANAK DIDIKNYA MENJADI DUNGU,
SEMUANYA “TAI”
GURU,,KAU BANGGA DENGAN TITLE MU
KAU BANGGA DENGAN SEBUTAN “PAHLAWAN TANPA TANDA JASA”
SEMUA ITU “TAI”
BUKAN UANG KAN YANG ENGKAU CARI??
TAPI BIBIT UNGGUL KEPAHLAWANAN!!!
GURU AKU SALUT KEPADAMU DENGAN NILAI LUHURMU……
MERDEKA!!!!!!!!!!!
MERDEKA!!!!!!!!!!!