Belahan Jiwaku

gagetku1.jpgInilah “seperangkat gamelan” yang mewarnai hari-hariku diperantauan. Sebuah tape doble deck yg dilengkapi pemutar vicidi bermerek philip yang kubeli sekitar tahun 1997 di jalan abc bandung seharga 400 ribuan (gajiku saat itu sekitar 350 ribuan n dollar msh 2500), satu set komputer jangkrik berprosesorkan amd athlon tm xp-m 1500+ dengan hardisk 40 giga yg dilengkapi dividi combo merek lite-on, monitor samsung 15 inchi, keyboard logitec, mini mouse made in china, stabilizer ecek-ecek merek union ditambah speaker simbada 150 ribuan yg kesemuanya itu kubeli di glodok sekitar thn 2004-an yang klo dikalkulasi dgn biaya perakitan, totalnya mencapai 3,5 jutaan kemudian TV rekondisi merek asiatech kaliber 14 inchi yg baru kubeli beberapa bulan yang lalu, portable dividi player seharga 500 ribu merek dasioral dan kipas angin super kecil merek penalux yg biasa digunakan anaku untuk mendinginkan PS-nya. Yah…total jendral sekitar 5 jutaan-lah….

Meski perangkat gamelanku ini gak begitu mbejaji babar blas….tapi semuanya kubeli dari hasil kristalisasi keringat yg menetes…tes….tes….dari tubuhku sendiri. Dan alhamdulillah… gamelanku tersebut masih dapat dimainkan dengan lumayan baik walau kadang-kadang suaranya terdengar agak fals dikit dan bahkan terkadang juga gak keluar suaranya sama sekali. Tapi karena gamelanku adalah belahan jiwaku so aku sangat paham dengan karakter, sifat dan tingkah-polahnya. Nah…kalau suaranya sudah mulai terdengar fals dan ogah-ogahan jika dimainkan maka gamelan-gamelan itu langsung kuperiksa, kusetem atau kukalibrasi biar nada-nadanya sesuai dengan larasnya. Yang pelog…biar kedengaran pelognya dan yang slendro biar kedengaran slendronya. Bahkan kalo perlu sesegera mungkin kulakukan ruwatan dengan air dari 7 sumber dan bunga 7 rupa biar penyakitnya pada wesheweshewes bablas angine. Tapi jika ternyata tetap gak mempan maka terpaksa kudokterkan di puskesmas terdekat.

Yah….gamelanku adalah belahan jiwaku. Kalau tanpa mereka hidupku akan kacau balau… badanku ngilu-ngilu, tenggorokan terasa kering, bibirku pecah-pecah, kepalaku nyut-nyutan, telingaku mendengung terus gak karuan, mataku berkunang terasa mau pingsan, jantungku seakan berhenti berdetak, perutku melilit, nafasku sesak, gatal-gatal disekujur badan, persendian kaku dan aku seperti orang yang lumpuh tak berdaya. Makan jadi gak enak tidurpun menjadi gak nyeyak….pokoknya tanpa mereka hidupku menjadi hampa, serasa sukma ini mau terlepas dari raga.

meja1.jpgDan inilah…..”para sindenku” yang juga selalu setia mendampingi dan membikin hidupku jadi lebih hidup. Mereka selalu ada jika saya butuhkan, mereka selalu siap jika kugunakan dan mereka gak pernah protes. Saat dahaga menjerat leherku…merekalah yg mengendorkan jeratannya, saat perutku melilit gak karuan….mereka pula yang merapikan lilitannya dan saat mata ini diserang wabah kantuk yg menghambat kinerja…..mereka juga yang membasmi wabah ngatukan itu sehingga mataku jadi lebih tajam setajam cuter. “Para sindenku” adalah juga belahan jiwaku, sama seperti gamelan-gamelan yang mewarnai hidupku.

tape1.jpg‘N…That is….tape doble deck dengan pemutar vicidi-ku yg selalu ada disampingku di kala suka maupun duka. Dari semenjak dines di mBandung ..trus di nJakarta…Lombok…ampe di Mangkassar…selalu kubawa serta. Benar-benar maiSoulMate. Lihat tuh…kap-nya sampai terbuka hingga jeroannya kelihatan. Saat kubeli masih terbilang gamelan ter-lux-lah karena pada tahun 97-an memang bru awal-awalnya terjangkitnya wabah vicidi mania. Karena dia…aku jadi suka blusak-blusuk ke loakan cari-cari kaset jadul. Dari pinggiran jalan kebon kelapa-dalem kaum(bandung), pasar jatinegara-stasiun kalibata(jkt) sampai spanjang malioboro-pasar mBringharjo(yk) …aku susuri tuk hunting kaset bekas sampai terkumpul hingga 5ribuan. Berkat dia pula maka suaraku bisa jadi semerdu seperti sekarang tanpa harus kelayapan tiap malam ke kamar-kamar karaoke di mbandung, njakarta, njogja, lombok dan mangkassar.

Hebatnya….meski sudah sepuluh taon kuaniyaa dari pagi hingga dini hari setiap hari baru satu kali dia ngambek. Tapi begitu kudokterkan dipuskemas terdekat dan setelah diberi obat generik secukupnya….sampai sekarang dia gak pernah ngambek lagi. Treble-nya masih nyaring, bass-nya masih nendang dan eco-nya masih menggema memenuhi ruang peraduanku yg cuman 4×3. JudasPriest, Helloween, Metalica, LinkngPark, Rolling Stone, Spultura, Megadeth, BonJovi, Genesis, Dave Matthews band, Counting Crows, Bob Marley, Nirvana, Cassiopea, Spyrogira, Aljerau, SherylCrow, NorahJones, DianaKrall, George Benson, Fourplay, Phil Collins, Mike and the machanik, GTR, Peter Gabriel, Tony Banks, Gigi, Dewa 19, Andra and the Backbone,Pas, Slank, Padi, Pance, Charles Hutagalung, Gito Rollies sampai manthous, didi kempot, kinarto sabdo, anom suroto, mantep sudarsono ect..ect…ect..semuanya pernah merasakan putaran vicidi dan cengkraman doble deck kesangan ku ini.

Bahkan sampai sekarang mereka-mereka masih sering minta untuk diputar lagi….lagi….lagi…. dan lagi. Gak bisa kubayangkan apa jadinya hidupku tanpa tape doble deck dengan pemutar vicidi-ku itu. Meski beribu-ribu produk lebih canggih membajiri pasaran…aku tetap tak mo pindah kelain hati. Sekali tape doble deck dengan pemutar vicidi yang itu tetap tape doble deck dengan pemutar vicidi yang itu

3 Tanggapan

  1. hehehehe… lucu juga baca postingan ini. Belahan Jiwa kok barang2
    hehehehe.. lam kenal ya bos !!!!

  2. @ bebi :
    hehehehe… begetoo lah Beb..
    *lam kenal kembali n tengkiu*

  3. wah benar2 seorang serdadu nih om …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: