It’s The Final Countdown…

… dan bahkan diantara mereka banyak nyang malu untuk menghiba-hiba dan “mengumumkan” kesusahan mereka kepada khalayak ramai.  Apakah ini adalah sebuah bentuk dari nyang disebut “kesombongan“…??  Bisahh ajahh dikatakan demikian tapihh bisahh pula dikatakan tidak. Lhahh.. kenapa bisahh begetoo..??

Ketika kita melihat “orang susah” nyang tidak mau mengakui bahwa dirinya “susah“, maka bisahh jadihh kita akan mengatakan bahwa nyang dilakukan ituhh (orang susah nyang ndak mau mengakui kesusahannya) merupakan sebuah kesombongan. Hal ini sangatlah manusiawi.

Tapihh manakala kita mau melihat dari sisi nyang berbeda…. maka kita juwega akan bisahh memaklumi bahwa apa nyang dilakukan ituhh (orang susah nyang ndak mau mengakui kesusahannya) bukanlah sebuah kesombongan.  Hal inihh juwega sangat manusiawi… cos sapa sehh nyang mau di-cap sebagai “orang susah“…?? Ndak ada kan…??!!  Meskipun pada kenyataannya “mereka” emang benar-benar orang susah.😆

Harga diri. Jahh… harga dirilah nyang menyebabkan mereka sampai ndak mau dikatakan “demikian“, meskipun pada kenyataanya kita memang “demikian“.  Maka ndak heran kalau sampai ada orang nyang begetoo marah manakala harga dirinya disentuh…. apalagee sampai dipermainkan.

Cuman kadangkala, “mereka… termasuk kita“, sering terlalu tinggi “meletakan” harga diri tersebut sehingga sampai melupakan kenyataan nyang ada.  Mata.. “mereka… termasuk kita”  sering dibutakan, hati “mereka… termasuk kita” juwega sering dibekukan dan nalar “mereka… termasuk kita” bahkan teramat sangat sering ditidakwaraskan oleh nyang namanya harga diri ituhh.

Perjalanan menuju  “down to earth” emang ndak mudah. Dan ituhh menjadi bertambah tidak mudah ketika “mereka… termasuk kita” ndak mau melepaskan “kaca mata kuda” nyang selama inihh tanpa disadari selalu “mereka… termasuk kita” kenakan manakala melihat sesuatu permasalahan.

Lihatlah dan biasakanlah melihat dari berbagai macam sudut pandang  nyang berbeda maka kita tidak akan memandang sebuah “kesombongan” sebagai sebuah “kesombongan nyang mutlak” dan mereka-pun juwega ndak akan menafikan “kenyataan” nyang sebenarnya berlaku pada diri mereka.  Disaat itulah “Final countdown” akan benar-benar menjadi final-se-final-final-nya.

Jahh…

We’re leaving together
but still it’s farewell
and maybe we’ll come back,
to earth, who can tell?

I guess there is no one to blame
we’re leaving ground (leaving ground)
will things ever be the same again?
It’s the final countdown….

….dan saat ini-pun saya sedang melakukan “Final countdown” terhadap diri saya. (bersambung).

Ps.
Kalo ndak “dong“… ndak usah “di-dong-dong-kan“. Cukup katakan “ndak dong” ajahh maka akan saya “dong“-kan.  Pada saat-nya.

Nb.
Ikutlah terus postingan “Special Editions” di blog inihh, jika sodara-sodara ingin “dong” dgn apahh nyang saya mangsudkan. Tq.

4 Tanggapan

  1. Kalok sayah segh biyasanya;

    Senang liyat orang syusyah….
    Syusyah liyat orang senang…..


    :mrgreen:

  2. @ Mbel :
    Kalo ndak biasanya gemana Om..? :mrgreen: :mrgreen:

  3. No comment dulu…

  4. segala sesuatu akhirnya tergantung pada sudut pandang yang melihat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: