Berawal dari Ngoto….

Sudah hampir 17 tahun saya tidak ke tempat ini. Terakhir saya ke sana pada tahun 1992. Dan ketika beberapa waktu yang lalu saya ke sana, saya sedikit takjub, karena tempat itu benar-benar sudah berubah. Yang pasti, menjadi jauh lebih baik daripada waktu saya untuk pertama kalinya menginjakkan kaki saya di sana. Nah, kalau kemudian pada kesempatan ini saya mau menulis tentang hal tersebut, tidak lebih dan tidak kurang, semuanya itu karena… dari kejadian ditempat itulah muncul “tag” yang sangat terkenal dikalangan kami, Akabri 1995.

Ingin tahu ceritanya?? Monggo, silakan dilanjut….

Adalah Ngoto. Sebuah daerah yang berjarak 3 kilometer disebelah Tenggara Kota Yogyakarta. Bagi TNI Angkatan Udara, tempat ini memang sangat bersejarah. Ceritanya…, dulu saat Belanda, si Kumpeni sialan yang tidak rela melepaskan Indonesia sebagai lahan jajahannya, dengan dalih melakukan apa yang mereka namakan “Politionalle Actie” telah menyerang secara membabi-buta wilayah RI dari darat, laut dan udara.  Padahal sebelumnya, pada tanggal 25 Maret 1947 telah ditandatangi Perjanjian Linggarjati antara kedua belah pihak (selengkapnya tentang Perjanjian Linggarjati, baca disini).

Pengkianatan secara sepihak atas perjanjian Linggarjati tersebut, yang kemudian terkenal dengan sebutan Agresi Militer Belanda I (21 Juli 1947), membuat Indonesia tidak tinggal diam. Agresi milter yang sempat menghancurkan beberapa pangkalan udara Indonesia (seperti Pangkalan Udara Gorda, Jatiwangi, Pandanwangi sampai Bugis) dan beberapa buah pesawat yang dimiliki bangsa ini (pesawat pembom “Diponegoro”, pesawat intai strategis “Shinsitei dan pesawat buru “Hayabusa”), mendorong niat Angkatan Udara Indonesia untuk melakukan serangan balasan.

Singkatnya…, pada tanggal 29 Juli 1947 pukul 05.00 WIB dari Pangkalan Udara Maguwo (sekarang Adisutjipto-red) bertolaklah 3 buah pesawat, yang terdiri dari 2 pesawat latih “Cureng” dan 1 buah pesawat pembom Mitsubishi 98 “Guntai” untuk menyerang basisi-basis militer Belanda di kota Ambarawa, Salatiga dan Semarang. Oleh KASAU Komodor Udara S. Suryadarma dan Pa Ops. Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma ketiga pesawat itu dilepas dengan masing-masing mendapat perintah operasi sebagai berikut:

  • Kadet Penerbang Suharnoko Harbani disertai penembak udara Kaput dengan pesawat “Cureng” menuju ke sasaran Kota Ambarawa.
  • Kadet Penerbang Sutardjo Sigit disertai penembak udara Sutadjo dengan pesawat “Cureng” menuju ke sasaran Kota Salatiga.
  • Kadet Penerbang Muljono disertai penembak udara Abdurrahman dengan pesawat pembom Mitsubishi 98 “Guntai” menuju ke sasaran Kota Semarang.

Meskipun hasil dari penjatuhan bom-bom dari ketiga pesawat itu yang berat totalnya mencapai 400 kg itu tidak begitu berpengaruh terhadap kekuatan Belanda , tapi efek psikologisnya sangat besar, baik bagi Belanda maupun buat bangsa Indonesia sendiri. Bagi Belanda, sudah pasti ini membuktikan bahwa ternyata bangsa Indonesia masih ada dan tidak bias diremehkan begitu saja. Sedangkan buat bangsa Indonesia sendiri keberhasilan serangan ini bisa membangkitkan semangat kebangsaan dan kebanggaan tersendiri karena ternyata bangsa Indonesia yang masih muda ini bisa juga melakukan serangan udara.

Selanjutnya Belanda ngamuk. Maka diterbangkanlah 3 buah pesawat buru “Kittyhawk” untuk mengejar ketiga pesawat Indonesia yang melakukan serangan itu. Karena tidak mendapatkan yang dicari, Belanda terus ngawur.  Pesawat Dakota India VT-CLA yang membawa bantuan obat-obatan dari Palang Merah Malaya yang sore itu mau mendarat di Pangkalan Udara Maguwo ditembak.  Pesawat Dakota India VT-CLA yang tidak bersenjata itu akhirnya jatuh di daerah Ngoto.  Maka gugurlah putra-putra terbaik Angkatan Udara, putra-putra terbaik bangsa. Komodor Muda Udara A. Adisutjipto, Komodor Muda Udara Prof.Dr. Abdurrahman Saleh dan Opsir Udara Adisumarmo yang tercatat sebagai air crew di pesawat tersebut ikut menjadi korbannya.

Sangat disayangkan memang. Kalau saja ketiga pioneer Angkatan Udara itu tidak gugur, mungkin Indonesia akan sangat diperhitungkan dalam dunia penerbangan dan banyak pesawat yang bisa kita perbaiki sendiri. Bahkan mungkin juga, bangsa ini tidak perlu membeli pesawat dari negara lain, karena bangsa ini sudah bisa membuat pesawat sendiri. Jadi tidak ada lagi istilah pesawat jatuh karena sudah uzur usianya, tidak bisa beli suku cadang-lah atau seribu macam alasan lain yang berhubungan dengan ketidakmapuan negara ini dalam menyediakan dana untuk pemeliharaan pesawat. Coba bayangkan, pada tahun 40-an saja beliau-beliau-nya itu telah berhasil menyulap barang rongsokan Jepang menjadi kendaraan tempur di udara yang mampu menjaga harga diri bangsa. Untung saja Pak Habiebie pada saat itu tidak ikut didalam pesawat VT-CLA [ infonya, saat itu Pak Habiebie belum jadi tukang insinyur :mrgreen: ], kalau sempat ikut juga maka angan-angan para pendahulu di bidang per-pesawatan itu akan tinggal cerita saja.

ngoto2

Maka ditempat jatuhnya pesawat Dakota India VT-CLA pun dibangunlah sebuah monomen sebagai pengingat bahwa bangsa ini pernah melahirkan tokoh-tokoh handal di bidang kedirgantaraan dan untuk menghargai jasa-jasanya. Dan di tempat itu pula-lah, beberapa waktu yang lalu, saat memperingati HUT ke-63 TNI Angkatan Udara saya ikut mengenang jasa-jasa beliau-beliau pada sebuah acara Ziarah Bersama di bulan April yang lalu.

ngoto1

Kembali ke paragraph awal.  Seperti yang saya sampaikan sebelumnya…, saya sangat takjub melihat monomen yang sudah 17 tahun tidak pernah saya kunjungi itu. Lhahh… lalu apa hubungannya dengan Akabri 1995 yang kebetulan saya menjadi salah satu alumnusnya?? Yahh, perlu diketahui aja bahwa “Berawal dari Ngoto …..”

Arghh sudahlah…, nanti pada kesempatan lain akan saya ceritakan kisahnya. :mrgreen:

***

Sumber :

– Buku Profil Lanud Adisutjipto

– Koleksi photo pribadi, yang diambil menggunakan kamera hp milik saya sendiri, bukan hp pinjaman. 😆

Iklan

4 Tanggapan

  1. .
    Kirain tadi salah judul….

    Berawal dari nyoto…

    Soale soto di Jogja enak-enak…

  2. Bener juga kata mr.major.. udah beda dari tahun 1992, Ngoto nyang sekarang sepertinya lebih `nge`rawat. Padahal doeloe tahoen 1992 daku juga pernah kesana tapi gak begitu jelas lihatnya, makloemlah waktu itu sampe di ngoto maghrib – perginya subuh.

  3. lumayan lebih bagus skrng…..lebih terawat gitu.dlu pernah maen ksana pas masih duduk SD, kmrin ksana …wow sekarang tambah bagus.

  4. @ Mbel :
    Sorii boss… kelupaan njawab :mrgreen:

    @ Muntakhab :
    Haaa…haaa…, gimana kabar Pak? sekarang dimana?

    @ yundi :
    Iyakk… jadihh lebihh bagus dan terawat.
    * makasehh tlah berkenan mampir *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: