Drama di Indonesia

HiroshimaHari ini – 64 tahun yang lalu telah terjadi drama kemanusiaan yang amat mengerikan. 80 ribu jiwa lenyap. Seluruh bangunan kota pun luluh-lantak – menguap – rata dengan tanah. Kali ini si-“Fat Man”-lah yang menjadi raja jagalnya.

NagasakibombSebelumnya si-“Little Boy” yang berperan sebagai pangeran pencabut nyawa. Meski disebut “little”, tetapi nyawa yang berhasil direnggut lebih dahsyat – 140 ribu!

Hiroshima dan Nagasaki adalah korbannya. Dua bom nuklir (atom) yang dijatuhkan di kedua kota tersebut (Hiroshima–6/8/1945 dan Nagasaki—9/8/1945) membuat Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu seminggu kemudian (15/8/45).

Status Quo. Tidak ada yang berkuasa di negeri ini. Kemudian terjadilah drama heroik yang bertitle Peristiwa Rengasdengklok yang berujung pada pernyataan kemerdekaan negeri ini oleh Soekarno-Hatta. Indonesia merdeka – tetapi perjuangan belum selesai.  Kumpeni belum mau mengakui kemerdekan negeri ini.

Serentetan drama pun kemudian terjadi lagi. Agresi militer kumpeni yang dilancarkan – dilawan dengan gagah-berani oleh para pejuang negeri ini. Patah tumbuh hilang berganti – mati satu tumbuh seribu. Perjuangan yang tak kenal lelah mempuat kumpeni benar-benar kepayahan. Dengan berat hati – pada Konferensi Meja Bundar yang dilaksanakan di Deen Hag — mereka baru mengakui kedaulatan Indonesia. Dan drama Dwi Kora demi kebebasan Irian Jaya (Papua) akhirnya mengakhiri pendudukan kumpeni di negeri ini.

Ternyata – tidak berhenti sampai disitu. Drama selama Orde Lama – drama semasa Orde Baru sampai bergulirnya Orde Reformasi – berbagai jenis drama masih saja terjadi di negeri ini. Drama di negeri ini masih jauh dari kata selesai

Perjalanan menjadikan Indonesia yang “benar-benar” berdaulat masih sangat panjang saudara. Oleh karenanya – sabar dan berusaha-lah. Hanya itu yang ingin saya sampaikan. Karena – masih banyak lagi drama lain yang akan terjadi di negeri yang bernama Indonesia ini.

Menuntaskan drama-drama itu memang tidak mudah. Misal — kalau serangkaian drama yang terjadi di Solo, Jati Asih dan Beji (Temanggung) kemaren belum terjawab — bahkan masih jauh dari kata “tuntas” – maka bersabarlah — bantulah dengan berusaha “duduk manis” — berikan ruang luas bagi yang berkompeten untuk menyelesaikan — tidak malah ngrecoki.  *Ini salah satu contohnya saja*.

Jahh… bila semuanya mau bersabar dan  berusaha sesuai  dengan kapasitasnya — maka semua drama yang terjadi di negeri ini akan dapat dituntaskan.


Iklan

Satu Tanggapan

  1. very is the best,…………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: