Refleksi 64 Tahun Kemerdekaan Indonesia

Setelah Sang Dwi Warna berkibar – menjaga agar tetap berada di puncaknya adalah kewajiban. Bahkan semestinya – puncaknya harus senantiasa ditinggikan, biar generasi mendatang bangsa ini masih bisa memandangnya.  Tidak hanya sekedar memandang – tetapi menatap dengan penuh kebanggaan, melihat tanpa pernah sedikitpun berpaling.

Indonesia adalah milik kita bersama. Bukan hanya punya pemerintah yang berkuasa atau sekelompok orang yang punya uang saja. Tetapi kita. Jahh… kita semua-lah yang menjadi owner dari negara yang bernama Indonesia ini.

Sebagai empunya, tentunya kita semua berkewajban menjaga dan merawatnya. Menjaga dari segala macam usaha yang berniat merusak – merawat agar senantiasa ada sepanjang zaman.  Merelakan hancur  adalah keapatisan, membiarkan lenyap menunjukan bahwa tidak pantas disebut sebagai anak bangsa.

Sebagai anak bangsa – mestinya kita tidak rela dan tidak akan pernah membiarkan bangsa ini dihancurleburkan dan dilenyapkan. Sebagai anak bangsa – sudah seharusnya kita selalu berusaha merawat setiap jengkal tanah  agar tidak dikoyak oleh siapapun. Dan sebagai anak bangsa – sudah semestinya kita menjaga  agar Sang Dwi Warna berkibar dipuncaknya. Bukan malah sebaliknya – menggerogoti pangkalnya hingga puncaknya hanya bisa dipandang dari jarak sejengkal saja. Selepasnya – hanya berupa onggokan tanah tanpa identitas.

Kini — sudah 64 tahun Sang Dwi Warna bekibar. Tetapi sampai sekarang (memang) belum pernah sampai pada puncaknya.  Butuh berapa tahun lagi agar sampai di puncaknya – saiya tidak tahu. Yang saiya tahu adalah — selama belum sampai di puncaknya, maka perjuangan memang belum selesai.

Dan oleh karenanya, semoga saja semakin banyak anak bangsa negeri ini yang menyadarinya — sehingga akan tetap terus berjuang untuk mewujudkannya. Minimal dengan tidak menjadi orang jahat dan tidak mendzolimi negerinya sendiri, Indonesia.

Selamat Ulang Tahun Indonesia.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. M E R D E K A . . . . ! ! ! !
    Puncak nyang manah inih Pakk ampek taunan sagala
    Apa tentara masih sempet mikir puncak nyang laen??
    he..he.he..
    salam buwat mamahnya farrel,boleh kan? salam ya pak.. ihik ihik ihik kakikukakikukakiku paaak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: