Godaan Itu Akan Selalu Ada

Jahh… meskipun pintu neraka dikunci, tetapi syaiton yang ada di hati masih bisa teriak lantang – menggoda siapa saja yang tidak focus dalam menjalankan ibadahnya.  Nah, kalo kemudian di bulan yang penuh dengan berkah ini masih ada manusia yang ndak mendapatkan keberkahan… saiya kira bisa dimaklumi. Begidulah manusia. Rentan terhadap godaan.

Godaan itu akan selalu ada.  Dimana tempat, kapan pun waktunya – ndak peduli.  Biar pun sampiyan ngumpet di kolong meja, di dalam jeruji penjara atau pun di tengah mejelis ulama ahli surga – selama sampiyan masih berada didalam dimensi ruang dan waktu – godaan yang beraneka ragam bentuk dan bermacam sifat akan senantiasa berada disisi sampiyan.  Sedekat hembusan nafas, selaras denyutan aliran darah di badan. Melawannya hampir tidak mungkin. Yang mungkin adalah dengan mengimbanginya.  Dan, imbangan yang baik untuk itu adalah memperbanyak perbuatan baik.

Pagi tadi saiya saur pake mie instan. Bukan lantaran bini saiya ndak mau masak – sebenarnya dia udah masak. Bandeng goreng plus sarden lengkap dengan sambel dan lalapannya.  Cuman karena perut ini lagi bermasalah dengan yang pedas-pedas, maka saiya ngorder saurnya pake mie instan ajahh.  2 bungkus ala mie jawa tanpa nasi bersemayam dengan mesra di dalam perut saiya.

Untuk ukuran lidah saiya, sambel racikan bini saiya ndak ada yang bisa mengalahkan.  Merahnya selalu mengundang selera – pedasnya membuat saiya terkapar tak berdaya karena selalu nambah.  Apalagi ini lawannya bandeng berduri lunak dengan lalapan hijau menantang.  Tambah deras ajahh air liur saiya mendesak ingin keluar dari persembunyiannya. Tapi untuk kali ini – tidak!

Saiya harus berbuat baik pada perut saiya. Hari sebelumnya butiran cabe merah itu telah memenuhi rongga terbesar di tubuh saiya. Saiya tidak mau merusaknya dan berakhir di pembaringan.  2 bungkus mie instan ala mie jawa itulah yang saiya jadikan sebagai penangkal aroma pedas nan menggoda. Puasa hari ini lancar-jaya  dan sampai ber-buka pun saiya nasih segar bugar tidak terkapar.

Jahh…  godaan itu memang akan selalu ada. Dan malam ini, sambal yang kemaren masih tersisa.  Aromanya kembali menebar minta disapa. Mau disingkirkan kok sayang.  Akhirnya – saiya tanggapi sapaanya. Kini rongga terbesar di tubuh saiya di penuhi butiran cabe panas yang membakar.

Arghhh… ternyata saiya masih rentan dengan godaan. Tapi ndak pa-pa.  Bukankah dengan begidu – berarti saiya masih manusia bukan??!

6 Tanggapan

  1. Marhaban Yaa Ramadhan… Selamat menjalankan ibadah puasa semua…

  2. hahah syaiton masih berkeliaran….lupa dirante tuh…hhhehehe…

    maap lahir batin yak

  3. Kalau ngga ada ujian kapan naik kelasnya yah?

    • Setuju Mbak.

      Di postingan ini saiya hanya ingin menyampaikan bahwa pada diri manusia itu terdapat banyak keterbatasan. Jadi tidak semua godaan (ujian) bisa diselesaikan dgn sukses.

      Menyadari keterbatasan kemampuan (pada beberapa manusia) kadang susah Mbak. Kebanyakan manusia terobsesi bahwa semua godaan/ujian (yg menimpanya) harus dilawan/diselesaikan.

      Memang untuk meningkatkan kualitasnya, manusia perlu menghadapi/mengatasi ujian (godaan) yg berlaku kepadanya — tapi mana-kala kita (manusia) tidak mampu menhadapi/menyelesaikannya maka santai aja-lah. Ndak perlu sampai bunuh diri segala. Kenyataanya..??

  4. Bos besok lagi jadwal pertandingan ditempel di tembok ya jadi ga terlewatkan hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: