Bersahabatlah Dengan Sang Waktu

#ajamTidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan. semuanya pasti akan selesai juga. Kalau karena sesuatu dan lain hal masalah itu tidak terselesaikan – maka masih ada Sang Waktu yang akan menyelesaikannya. Ini bukan perkara lari dari tanggung jawab.  Tetapi – ini bicara soal kemampuan.

Bahwa kemampuan manungsa itu ada batasnya. Ini tidak tak terbantahkan. Oleh karenanya – buat apa memaksakan diri? Berusaha memang harus. Tetapi kalau sudah berdaya-upaya sekuat tenaga – segenap kemampuan telah dicurahkan masih tetap ndak bisa menyelesaikan – maka pasrah adalah satu-satunya jalan.  Ini tidak ditabukan. Malah dianjurkan.

Beruntung kita dilingkupi oleh dimensi waktu. Pun begidu, sering kali kita enggan bersahabat dengannya. Waktu lebih sering kita tempatkan sebagai sesuatu yang membatasi. Dipersalahkan karena seolah tidak pernah mencukupi – dikambing-hitamkan sebab dianggap habis manakala mentok di tengah jalan.

#awaktuSebenarnya ini aneh. Karena waktu itu memang ndak pernah habis. Berkurang pun tidak. Dia akan berjalan, berjalan dan terus akan berjalan. Tidak pernah membatasi. Tidak pernah mentok – kecuali pada saat Sang Pencipta Waktu berkehendak untuk menghentikannya.

Adalah manungsa sendiri yang membuatnya seolah demikian. Manungsa sering alpa. Memandang waktu hanya sebagai deretan angka 1 sampai 12 — seperti putaran jam yang ada di tangan maupun di dinding. Kemudian perputaran bumi pada porosnya dan berevolusinya dikala mengelilingi matahari menyebabkan munculnya istilah hari-minggu-bulan dan tahun adalah juga bentuk kealpaan lain pada diri manungsa ketika memandang sang waktu.

Awal dan akhir. Itulah kata yang tepat untuk Sang Waktu. Diatas semua itu, hanya Tuhan-lah sebagai Sang Pencipta Waktu yang akan menentukan kapan Sang Waktu akan dimentokan. Sementara kata lahir dan mati yang sering dianggap manungsa sebagai pembatas, jelas-lah bukan batas yang sebenarnya. Lahir hanyalah awal dan mati cuma akhir dari kehidupan.

Maka bersahabatlah dengan Sang Waktu. Jangan disia-siakan. Jangan diabaikan. Meski Sang Waktu tidak akan pernah protes, tetapi jika diperlakukan demikian secara terus-menerus, maka jangan salahkan Sang Waktu — bila suatu saat kita akan digilas olehnya.

Iklan

5 Tanggapan

  1. jadi inget lagunya almarhum mbah surip. katanya “time is money”, hahaha …. halo, bung serdadu, gimana kabarnya? jadi kangen sama si farel nih.

  2. yak, tul, cuma rasanya memmmaaang sungguh sedih ketika sadar bahwa kemampuan kita cuma seiprit, pdhal maunya segajah ya…

  3. @ Sawali :
    Kabar baik Pak… cuman emang jarang blog walking ajahh. **Maap kalo lama ndak mampir.**

    @ Zaki :
    Benarrr…! Manusia emang banyak maunyahh.

  4. Yah sepatutnyalah kita sadar dgn sang waktu dan bersahbat dgnnya. Tapi sebagai manusia yg suka lali kita sering lupa..lupa bhw sgl sesuatu ada masanya dibumi ini. Tapi kalau semuanya kita sadari terus menerus betapa capeknya hidup ini. Setiap orang mempunyai pola pikir yg berbeda dan biarlah setiap orang menikmati apa yg dimilikinya.

  5. terkadang waktu sering kita abaikan.. kita mempunyai waktu 24 jam sehari.. tapi ada yang mampu memanfaatkannya ada juga yang tidak.. semuanya tergantung dari diri kita masing-masing…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: