Obrolan di Warung Kopi Bawah Jembatan Layang

Malam belum begitu larut. Masih pukul 9 lebih seperempat. Namun jalanan sudah nampak lengang. Hanya satu-dua sepeda motor saja yang tampak masih berlalu-lalang tanpa raungan. Sementara beberapa mobil yang lewat pun  kelihatan malas memacu kerja speedo meternya. Lambat penuh kewaspadaan. Hujan deras itu seakan telah mematikan jiwa ugal-ugalan mereka dikala hari terang.

Saat tidak ada hujan, jalanan memang rata-rata telah berubah bak sirkuit balapan. Tidak ada yang mau mengalah, semuanya berpacu untuk saling mendahului. Kadang rambu-rambu lalu-lintas di sepanjang jalan dipandang hanya sebagai hiasan saja. Beberapa bahkan tidak paham kalau itu rambu lalu-lintas. Mereka menganggap rambu-rambu itu sama dengan papan reklame berukuran mini, bukan sebagai papan peringatan.

Mungkin diantara mereka ada yang low level IQ, tapi saiya yakin itu jumlahnya sangat sedikit. Lebih banyak yang berpendidikan, bahkan ndak sedikit yang sudah tamat dari bangku kuliahan. Begitulah…, mereka merasa mempunyai urusan yang sangat penting, sehingga tidak boleh ada yang menghalangi perjalanannya. Kalau boleh mereka memasang lampu nguing-nguing seperti yang ada di mobil ambulance atau sirine yang ada di kendaraan patroli polisi, sudah pasti mereka akan memasangnya di kendaraannya masing-masing. Berapapun harganya.

Padahal kalau dipikir-pikir…, buat apa sih buru-buru? Toh nyantai pun juga akan nyampai. Kalau alasannya untuk mengejar waktu, saya kira orang yang punya alasan seperti ini… pastilah orang yang tidak pernah membuat perencanaan dalam hidupnya. Pada kondisi tertentu, misalnya karena terlambat bagun atau ada urusan yang mendadak sehingga membutuhkan kecepatan untuk sampai di tujuan, mungkin buru-buru-nya itu bisa dipahami. Tetapi alasan itu tetap tidak bisa diterima apabila sampai mengabaikan rambu-rambu lalu-lintas yang ada di sepanjang jalan.

Rambu-rambu itu dipasang demi keselamatan. Melanggarnya berarti akan membahayakan para pengguna jalan lainnya selain dirinya sendiri. Jika ada yang berpendapat bahwa peraturan (rambu-rambu) itu dibuat (memang) untuk dilanggar…, agaknya orang yang punya pendapat demikian itu perlu diragukan kewarasannya.

Hujan tambah deras saja. Jarak pandang pun kini semakin memendek. Meski jarak rumah sudah dekat, namun akal sehat saya memerintahkan untuk menghentikan perjalanan.  Sang emosi yang ada di diri ini  pun mengamini. Dan saya hentikan sepeda motor  saya tepat di bawah jembatan layang.  Ternyata saya tidak sendirian. Ada beberapa pengendara yang mengambil keputusan yang sama seperti yang saya lakukan. Berteduh, menunggu hujan reda.

Ada yang duduk manis di atas jok sepeda motornya sambil rokok-an, ada pula yang asyik ngobrol sembari minum kopi di warung yang menempel di tiang penyangga jembatan layang. ”Kopinya  satu Pak. Jangan terlalu manis yak”. Sambil mengganggukkan kepala, saya pun kemudian bergabung bersama mereka.

Ada 5 orang yang ngopi-ngopi di warung itu. Dua membelakangi dan 3 lainnya menghadap angkringan Si Penjual. Saya adalah orang ke-6, dan saya sengaja mengambil tempat sebaris dengan ke-3 orang yang duduknya menghadap angkringan si penjual kopi itu. Bukan tanpa alasan kalau saya memilih duduk disitu. Paling tidak, itu  lebih memudahkan saya jika mau pesan ini-itu kepada Si Penjual.

Sejenak saya asyik dengan kesibukan saya sendiri. Menghisap rokok kretek dan menyruput kopi yang masih mengeluarkan uap panas. Hujan-hujan rokokan sembari minum kopi memang sangat mengenakan. Tubuh pun kembali memperoleh kehangatannya dan seiring bertambahnya kadar nikotin di kepala, berlahan saya mulai bisa menyimak apa yang dibicarakan kelima laki-laki yang berada disamping dan didepan saya itu.

”Coba bayangkan…. kok ya masih ada orang yang tega berbuat demikian”

”Mungkin mereka tidak tahu Broo”

”Yaa… harusnya ndak begitu. Mereka harusnya ngecek, jangan asal percaya saja.”

”Ndak ada waktu kali…”

”Ah itu mahhh… karena males saja.”

”Males gimana Broo..? Sekarang coba kamu pikir… bantuan itu tidak cuman berkarung-karung, tapi berpuluh-puluh kontainer. Gimana ngeceknya coba…??”

“Kalau sudah ada di tempat penampungan memang susah ngeceknya. Harusnya, sedari awal ada tanggung jawab dari para penyumbang yang budiman itu. Jangan sampai…., maksudnya menolong tapi yang terjadi malah menambah jumlah korban”

“Bentar…., saya kok ndak ngerti dengan yang sampiyan maksudkan”

“Memang mereka membutuhkan bantuan makanan, tapi jangan lantas asal kirim saja. Para korban bencana itu membutuhkan makanan yang sehat, bukan makanan yang sudah kadaluarsa.  Tubuh mereka itu masih lemah dan rentan terhadap penyakit. Kalau kemudian makanan yang mereka konsumsi itu sudah kadaluarsa, maka bisa jadi korbannya justru akan bertambah jumlahnya.”

”Iya juga sih…”

Setegukan kopi berhasil mendorong potongan tahu goreng yang tersangkut di kerongkongan menuju ke lambung. Sejenak pandangan saya arahkan ke sisa tahu goreng yang masih saya pegang. Terasa licin dan berkilauan. Terlintas pikiran dalam benak saya untuk membuang sisanya, tapi niatan itu saya urungkan. Sepotong tahu goreng yang masih tersisa itu tetap saja saya masukan ke mulut saya. Kemudian saya ambil sebuah tempe goreng yang kondisinya tidak jauh berbeda dengan tahu goreng yang baru saja saya makan tadi. Licin dan berkilauan. Rasa lapar akibat hawa dingin yang melanda membuat saya membuang jauh pikiran saya bahwa keduanya digoreng dengan menggunakan minyak jelantah, bekas minyak goreng yang sudah kadaluarsa pula. (bersambung)

Iklan

Satu Tanggapan

  1. yak, kalo mau ngamal memang harus total. barangnya harus baik dan bener, plus harus nyampe ke tangan yang bener, dan harus mbawa efek nyang baik buat penerima. By the way the busway, bukan cuma minyak goreng yang bahaya wiiinn, ROKOK KRETEKmu itu jugaaa…..!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: