Sebuah Cerita Seputar Wafatnya Gus Dur

Jogja sore itu hujan. Meski ndak deras guyurannya, tapi curahan air dari langit ndak berhenti-henti. Di seputaran kantor dan rumah saiya hampir 3 jam-an. Sambil nunggu reda, saiya pun bikin postingan ini. Selesai di-upload – saiya pulang. Tak lama kemudian Adzan Maghrib berkumandang. Dan selepasnya, saiya ambil sepiring nasi plus gulai ayam. Di depan TV 14” saiya lakukan ritual penggantian genre musik di perut saiya. Keroncongan itu akhirnya berubah agak sedikit ngerock.

Nasi masih setengah, genangan kuah gulai plus sebuah paha ayam masih tersisa, siap saiya tandaskan. Mendadak saiya tersedak. Saat itu saiya nonton Metro TV yang sedang menayangkan berita pilihan. Berita pertama trouble. Penelpon minta berita tentang “Membongkar Gurita Cikeas” tapi yang tayang malah tentang kasusnya Bu Prita. Sejenak saiya ngumpat dalam hati, “Piyeee…to kik?? Payah!”. Bukan itu yang bikin saiya tersedak, namun berita setelahnya. Gus Dur telah wafat. Pukul 18.45, KH Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab dipanggil Gus Dur itu menghembuskan nafasnya yang terakhir di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta.  Inna Lilllahi Wa Inna Ilahi Rojiun….

Hujan masih belum berhenti. Guyuran air dari langit yang tadinya menyejuk hati, kini seolah berubah menjadi linangan air mata seluruh anak bangsa.  Indonesia berduka Gus Dur tiada. Pengusung demokrasi, penggerak roda reformasi, Bapak pluralisme dan multikulturalisme  serta guru bangsa itu kini telah kembali ke hadirat Tuhan Yang Mahakuasa. Tak ada yang bisa menahan, tidak ada yang dapat menolaknya. Takdir Tuhan telah berlaku, maka semuanya harus merelakan dan mengiklashkannya bila Gus Dur diambil kembali oleh Yang Punya.

Sebagai manusia, Beliau adalah luar biasa. Meskipun tidak bisa luput dari kesalahan, namun jasa-jasa, perjuangan dan pengorbanan Beliau demi tetap tegaknya bangsa dan negara diatas kemajemukan yang ber-Bhinneka Tunggal Ika tidak bisa dilupakan begitu saja. Beliau ingin Indonesia tetap ada. Beliau ingin Indonesia tidak bercerai-berai. Maka, Beliau sadar bahwa ke-Bhinneka-an dan kemajemukan Indonesia harus senantiasa mewarnai disetiap gerak-langkah dan sepak-terjang Beliau.

Mungkin terkesan keras dan terlihat konterversial cara yang Beliau ambil dalam mengekspresikan pemikirannya, namun (bagi saiya)… Beliau tetaplah seorang nasionalis sejati yang sangat-sangat pantas mendapat penghargaan setinggi-tingginya oleh Negara dan seluruh rakyat Indonesia. Begidulah memang seharusnya.

Semalaman hujan masih mengguyur disekitar rumah saiya. Rupanya langit masih terus saja berduka, hingga saiya terlelap dalam buaian.  Pagi tadi di halaman rumah saiya telah tertancap bendera setengah tiang. Dan bini saiya-lah yang telah menancapkannya.

Selamat jalan Gus…

4 Tanggapan

  1. Menurut saya sendiri, cara kontroversial yang dilakukan “Ki Lurah Semar” memang itu salah satu wujud apresiasinya untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa….🙂

  2. selamat jalan Gus Dur….

  3. sebuah duka di penghujung tahun 2009
    selamat jalan gus dur
    semoga arwahmu diterima disisi-Nya

  4. Saya sepakat sekali…..BELIAU walau ULAMA …tapi ternyata NASIONALIS SEJATI.
    Dan ini saya numpang promosi :
    Wah…maaf ya…Ini promosi…barangkali berkenan, Saya anjurkan WEB anda ditambah dengan aksesori IKLAN dari PANEN IKLAN, anda bisa sekaligus jadi PUBLISHER juga AFFILIATE….GRATIS koq…tanpa biaya, dan web anda bisa lebih menarik. Disitu ada banyak pilihan tampilan iklan, misalnya : Rounded, Regular, Sticky ataupun Scroll bar. …tinggal pilih dan dapat dimodifikasi sendiri. Please…bisa dilihat di WEB saya SURAMADUSOHO. Sungguh sangat menarik…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: