Jika Saya Jadi Pelatih Timnas Indonesia

Dalam sebuah kompetisi sepakbola, kekalahan adalah kekalahan. Ndak isah kemudian kita mengatakan, kalah ndak pa-pa yang penting tim kita sudah bermain bagus. Kekalahan berarti hilangnya kesempatan untuk meraih juara. Untuk itulah, tidak kalah di partai puncak menjadi suatu hal yang “mutlak” yang ndak isah ditawar-tawar.

Beruntung bagi Timnas Indonesia, karena dalam kejuaraan Piala AFFini – pertandingan finalnya dilaksanakan dua kali dengan menggunakan system home and away. Artinya bahwa Indonesia masih punya kesempatan buat membalikan keadaan mekipun di laga away-nya sempat dihajar 3 gol tanpa balas.

Bola itu bulat, semuanya bisa saja terjadi dan sepakbola itu bukan ilmu pasti. Kata-kata magis inilah yang harus ada di benak setiap para pemain. Masih ada kesempatan kedua, maka ini ndak boleh disia-siakan. Lupakan kekalahan, perbaiki kesalahan kemaren, buang pikiran negative, cepat lakukan recovery dan tetap focus pada pertandingan final berikutnya.

Bila sejenak menengok kebelakang, sudah pasti ndak-da yang nyangka kalo Timnas Indonesia bisa kemasukan 3 gol tanpa sekalipun bisa membalasnya. Saiya pun berpikir seandainyapun kalah, maka rentangnya ndak selebar itu. Jelas ini ada sesuatu yang salah sampai mereka bisa main “seburuk” itu. Berbagai macam alasan bermunculan setelah kekalahan tersebut. Dari yang masuk akal sampai yang keluar dari nalar terungkap secara gamblang di dunia maya maupun di dunia nyata.  Sementara, saiya melihat ketidakfocusan terhadap pertandingan menjadi penyebab utama, disamping kesalahan strategi  dan ketidak-jelian pengamatan Riedl juga turut andil dalam kekalahan di minggu malam kemaren.

Jahh…. Riedl terlalu memaksakan untuk menang. Harusnya dia cukup “bermain save” dengan menempatkan seorang striker dan menempatkan lebih banyak pemain tengah. 4-5-1 adalah formasi yang seharusnya ia terapkan. Ketidak-cermatan M.Ridwan dalam menghalau maupun membawa bola, tidak optimalnya Okto dalam melakukan tusukan, sampai tidak berfungsinya Gonzales di lini depan – tidak cepat ia respon dengan melakukan pergantian. Walhasil pasukan lini pertahanan menjadi bekerja terlalu berat, sehingga konsentrasinya pun buyar karena kecapekan.

Menjelang babak pertama berakhir, saiya menulis di akun FB  saiya : “masukin BePe, ganti Okto dengan Arif”. Ketika salah seorang teman nanyakan alasan saiya, maka saiya jawab, “ini hari bukan harinya Gonzales dan Okto ndak optimal karena kecapekan diwawancarai tv one”. Dan beberapa saat kemudian… gol-nya Gonzales pun dianulir.  Sampai disitu saiya semakin yakin bahwa secepatnya Gonzales harus segera diganti. Dipaksa kayak apapun… Gonzales ndak kan bisa ngubah keadaan, karena hari itu emang bukan harinya Gonzales.

BePe harus segera dimasukan, karena lewat tik-tak Timnas ndak isah nembus pertahanan Malay, sehingga umpan dan crossing langsung ke mulut gawang bisa menjadi alternative serangan. Dan disitulah peran BePe yang saiya harapkan, menghasilkan gol lewat heading-nya. Sayangnya Ridle terlambat, memasukan BePe saat Indonesia sudah tertinggal jauh. Adapun Okto… sejak menerima kartu kuning diawal laga praktis membuatnya ndak isah tampil lepas. Buruknya penampilan Ridwan, Nasuha dan Maman juga memperparah penampilan Timnas.  Walhasil Indonesia-pun kalah.

Memang sangat disayangkan…. Riedl ndak nyambi online fb-an kala itu sehingga ia ndak bisa mbaca status fb saiya. Dan kacaunya lagi saiya ndak punya nomor hp beliau, akibatnya saiya ndak isah ngasih teu beliaunya. Sementara untuk menyampaikannya via telepaty ndak mungkin saiya lakukan… karena ilmu telepati saiya belum nyampai lintas Negara :green:

Tapi sudahlah… nasi udah menjadi bubur, cepat saja bubur itu dihabiskan dan kemudian kita nanak nasi lagi dengan takaran yang lebih tepat, biyar ndak jadi bubur lagi.

Lalu apa yang harus dilakukan Riedl di laga kedua nanti…?

Kalau saiya jadi Riedl, maka saiya akan pasang GonZales dan BePe didepan dan Bachdim dibelakang mereka. Arif dan Toni akan saiya plot di sayap, menggantikan Okto dan Ridwan.. Menarik Firman agak kebelakang dan membiarkan Bustomi untuk mengambil perannya (Firman).  Sementara Nasuha, Hamka dan Maman tetap mengawal daerah pertahanan. Untuk mengejar defisit 3 gol, maka ndak ada cara lain kecuali mempertajam lini depan. Mengorbankan Zulkifly adalah solusi yang saiya pilih untuk itu. Jahh formasi 4-3-3 yang akan saiya gunakan dengan susunan pemain : Markus (kiper), Nasuha, Hamka, Firman, Maman (belakang), Arif, Bustomi, Toni (tengah), Bachdim, Gonzales dan BePe (depan).

Alasan saiya menarik Firman lebih ke belakang adalah agar tercipta keseimbangan di lini tersebut, sedangkan mengapa saiya menempatkan Bustomi sebagai jendral di lapangan tengah karena dia lebih muda dan bertenaga bila dibandingan Firman. Untuk menjaga asa… saiya akan instruksikan untuk mencetak gol cepat dan berusaha untuk tidak kebobolan. Sebelum menginjak menit ke 16 gol itu harus sudah tercipta. Bila belum, maka Firman akan saiya kembalikan ke posisi semula mendampingi Bustomi untuk menciptakan daya gedor yang lebih tajam.

Instruksi saiya yang lain, Firman dkk. saiya harapkan menyerang ala Inggris yang langsung menusuk ke lini pertahanan lawan biyar tercipta kepanikan yang teramat sangat diantara para pemain Malay. Dengan begidu, kesalahan-kesalahan antisipasi para pemain Malay mungkin akan lebih banyak terjadi sehingga probabilitas terciptanya sebuah gol akan lebih terbuka. Beginilah yang akan saiya lakukan jika saiya menjadi Riddle.

Untuk mengejar defisit 3 gol memang dibutuhkan perubahan strategi yang lebih ekstrim. Mari kita lihat, apakah Riedl akan berani melakukannya (menempatkan 3 striker) atau masih tetep kekeh-jumukeh mengandalkan hanya 2 striker dan menempatkan Firman sebagai jendral di lapangan tengah seperti biasanya. Sekali lagi, bila masih melakukan pengulangan strategi seperti yang sudah-sudah (4-4-2), maka bersiap-siaplah untuk menangis di akhir laga.

Sebagai penutup…., PSSI telah memanggil Andri Wongso Sang Motivator untuk menaikan mental para pemain timnas dan biyar mentalnya bisa tambah lebih naik lagi… ada baiknya Pak Nurdin mengatakan demikian, “Apapun yang terjadi, saiya – Nurdin Halid dan Pak Sekjen menyatakan mengundurkan diri dari PSSI”.  Akan menjadi hal yang sangat buruk bila mereka kemudian (tetap nekat) berduet menyanyikan lagunya Bondan Prakosa…. “Apapun yang terjadi… ku kan slalu ada untukmu….” Jiahhh….! Maka ngalamat dunia sepakbola Indonesia pun akan kiamat.

Hidup untuk Timnas Indonesia dan tidak untuk PSSI periode mbambung!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: