Jangan Tanyakan Mengapa

njepretIni bukan soal gaya-gayaan atau sok kaya, jika kemudian saiya punyak kamera yang ndak isah disakuin berjudul Sony SLT A-35. Ini urusannya dengan masalah kesukaan. Namanya suka, maka “menguber” adalah konsekuensi logisnya. Seperti halnya orang yang suka golf (misalnya). Para Golfer inipun juga selalu ingin menguber waktu luang untuk mukal-mukul bola di padang rumput dengan tongkat pemukul yang harga satu bag-nya boleh dibilang ndak murah. Bahkan, bila ndak ada waktu luang-pun….kadang yang rasa sukanya udah ndak ketulungan (addict) akan berusaha untuk meluang-luangkan waktu yang ada. Hari minggu yang disebut oleh banyak orang sebagai hari tidur nasional atau hari keluarga sedunia tetap akan dihajar untuk ber-golf-ria. Saiya rasa para penyuka kegiatan lainnya juga ndak begidu jauh beda kelakuannya.

Ndak ada yang aneh dan ndak ada yang perlu diperdebatkan. Jer basuki mowo bea…. semua ada biaya yang harus dikeluarkan untuk menyetubuhi kesukaaannya masing-masing. Kalaupun ada yang aneh adalah bila sampai lari dari tanggung-jawab demi menguber kesukaannya itu. Namun untuk memperdebatkan “mengapa”-nya…, saiya rasa ndak bakalan kelar-kelar, karena ini sudah menyangkut ke wilayah privat a.k.a pandangan pribadi, sehinga sangat dimungkinkan muncul jawaban yang ndak masuk akal, susah dinalar dan menyimpang dari jawaban “pada umumnya”.

Misalnya saiya yang suka pada kegiatan jeprat-jepret ini. Perkenalan saiya dengan kamera dimulai sekitar tahun 2000-an, ketika itu saiya beli kamera yang bisa disakuin bermerk Olympus dengan resolusi 1,2 megapixel. Ketika dinas di Lombok saiya mulai menggunakan kamera jenis DSLR bermerk Canon, tapi itu punyaknya kantor bukan punyak saiya pribadi lhooo… Dari situlah saiya mulai berniat suatu saat nanti pengin punyak kamera berjenis DSLR. Dan mulailah saiya melakukan aksi ngumpulin duit untuk mewujudkan niat saiya itu.

Sebelum kesampaian, saiya tergoda untuk mbeli kamera saku yang pada tahun 2005-an memang lagi booming. Saat itu resolusi kamera (besaran pixel) menjadi acuan bagi para calon pembeli, termasuk saiya. Pilihan akhirnya saiya jatuhkan ke Lumix DMC (serinya lupa) dengan besaran 7 megapixel. Selanjutnya kamera itu saiya lungsurkan (berikan) ke tempat dinas saiya dan kemudian saiya beralih ke Lumix TZ10 (12 Megapixel), kamera saku yang semi-manual.  Seiring berjalannya waktu, duit yang saiya tabung akhirnya memenuhi kuota untuk ditukar-gulingkan dengan sebuah kamera digital jenis DSLR. Setelah melalui pertimbangan yang matang, Sony SLT A-35 saiya pilih untuk memuaskan hasrat saiya di bidang jeprat-jepret ini. Lumix TZ10-nya sekarang dipegang bini saiya.

njepret2

Singkat kata-singkat cerita, Sony SLT A-35 tersebut sekarang saiya kolaborasikan dengan gitar akustik bermerk Yamaha (apx-500) dan saiya jadikan andalan untuk mengusir kebosanan, sekaligus sebagai sarana untuk melatih/membiasakan diri supaya terbiasa melihat segala sesuatu dari banyak sisi.

Mengapa Sony?? – saiya pengin beda ajahh dan biyar ndak dikira itu kamera punyaknya kantor. Soalnya, di tempat dinas saiya, kamera DSLR yang dibagi-bagikan secara gratis ke kesatuan-kesatuan yang sehari-harinya bekerja dengan kamera…. kalau ndak Canon….ya Nikon.

Sungguh sebuah alasan yang ndak masuk akal, susah dinalar dan menyimpang dari jawaban “pada umumnya” bukan? – makanya, jangan ditanyakan “mengapa”nya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: