Antara Joko Wi, Banjir Jakarta dan Saiya

Aah….! Nya’ banjir!
Jakarta kebanjiran, di Bogor angin ngamuk
Ruméh ané kebakaran garé-garé kompor mleduk”

…. dari kejauhan Bang Bens menyenandungkan lagunya.

jakarta

Apakah benar ada angin ngamuk di Bogor atau ndak, saiya ndak begidu monitor. Sedangkan soal rumah yang kebakaran, alhamdulillah…. rumah saiya di Jogja aman-aman saja dan kompornya-pun juga ndak meleduk. Kepastian tentang hal ini sudah saiya dapatkan setelah saiya kontek ke bini saiya. “rumah aman Pi…., cuman jalan di depan aja yang kebanjiran”, begidu kata bini saiya. “kompornya meleduk ndak?”, tanya saiya selanjutnya.   “Ndak..”, jawabnya kemudian. – Tapi tentang Jakarta yang kebanjiran, itu memang benar adanya. Bahkan cukup parah. Karena kali ini Istana juga kebagian. Pun demikian dengan beberapa tempat yang dulunya ndak tersentuh banjir meski diguyur hujan lebat seharian, kini harus mau menerima kenyataan yang sama dengan daerah-daerah endemi banjir lainnya.

“Ané jadi gemetenran, wara-wiri keserimpet
Rumah ané kebanjiran gara-gara got mampet…”

Gemetaran sih ndak, cuman kasihan ajahh nglihat Pak Joko Wi yang baru ajahh njabat udah ketiban pulung, harus secepat kilat mengatasinya supaya para korban banjir bisa tetap melanjutkan hidupnya dan warga yang ndak kebanjiran tapi terkena dampaknya juga bisa tetap mencari nafkah untuk kelangsungan hidup keluarga, keponakan dan embahnya. Semantara ndak sedikit pula para pejabat dan ex-pejabat nasional, juragan…sampai kaum sosialita yang berharap supaya move-nya ndak terhambat dalam menghamburkan uang untuk kesenangan hidupnya. Bak pesulap yang tinggal menjenthikan jarinya kemudian….hup, Jakarta bisa berubah menjadi teratur, tertata, hijau meneduhkan, ndak pake banjir dan ndak ada macet lagi. Begidu kira-kira keinginan yang warga Jakarta harapkan dari seorang Joko Wi

Sreeeset…., kaki Pak Joko Wi keserimpet sampah yang ikut terseret air bah. Sambil geleng-geleng seraya memandangi berbagai macam dan jenis sampah yang beraneka ragam ukurannya mengapung di ruas jalan besar yang baru saja dilaluinya. Wira-wiri kesana-kemari tetap saja sama yang ia temui. Air, air dan air.  Sayup-sayup terdengar alunan 3 bait terakhir lagunya Bang Bens di bagian reff-nya…..

“…Aa~yo-ayo bersihin got jaa~ngan takut badan blépot.
Coba enéng jangan ribut, jangan padé kalang kabut.
Aarcgh….!!”

Sejurus kemudian beliau-nya menepuk jidatnya…. teringat berbagai macam sajian wawancara reporter televisi dengan para narasumbernya yang ngebahas soal banjir berlagak-gayakan bak seorang juri pada acara pencarian bakat. Mengkritik sampai berbusa mulutnya di ruangan ber-ac, tanpa kehujanan. Harum semerbak dan ndak ber-sampah. Berdandan pake jas kayak mau kondangan, bertemankan secangkir kopi panas yang bisa menghangatkan badan seraya menyalah-nyalahkan.

Plek! – untuk kedua-kalinya Joko Wi menepuk jidatnya. Setelah itu tangannya ia turunkan ke dadanya dan mengelusnya.

Pray For Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: