Balada Musik Dangdut (Jangan Tanyakan Mengapa – jilid 2)

dangdut1Lhahhh…kok bisa begidu yak..??” – Pertanyaan seperti ini atau sejenisnya sering-kali hinggap di benak saiya menakala melihat kesukaan seseorang terhadap sesuatu hal atau ketika mendengar pernyataan seseorang tentang kesukaannya itu. Awalnya saiya geleng-geleng kepala, kemudian nepuk jidat dan berakhir di ngelus dhadha. Namun sekarang ini saiya sudah nyampai pada tingkatan “bisa memahami” atau setidaknya berusaha untuk bisa memahami tentang hal tersebut.

Jahh…seperti yang saiya bilang di postingan sebelumnya, bahwa ketika saiya mempertanyakan “mengapa”-nya atas kesukaan seseorang  terhadap sesuatu hal yang mereka sukai – yang menurut saiya ada unsur keanehan dalam hal kesukaanya tersebut, maka yang saiya dapati biasanya adalah jawaban yang ndak masuk akal bin terkesan susah dinalar dan menyimpang dari jawaban orang pada umumnya. So, kalau saiya tetap mempertanyakan “mengapa”-nya, maka ketersia-siaan atas kinerja benak saiya akan terjadi dengan sukses dan hati saiya akan ter-dzolimi. Akhirnya, sumangga kersa – silakan saja, selama itu ndak ngeggangu saiya.

Adalah penting bagi seseorang untuk bersikap, agar ndak seperti kebo yang dicocok hidungnya. Diajak kesini okeee…., disuruh kesana haayuukk. Menurut saiya itu ndak bagus. Namun dalam urusan bersikap ini seyogyanya jangan sampai melukai perasaan orang lain. Contoh teraktual adalah apa yang dialami Pak SBY terkait dengan sangkaan ndang-duters (penggemar music ndang-dut) bahwa beliau-nya diskriminatif terhadap music ndang-dut. Untungnya beliau menangkap issue tersebut dan cepat mengklarifikasinya (baca : disinihh – klik ajahh langsung). Setelah mbaca tentunya kasus di-closed, tapi kalau masih berlanjut…. kayaknya yang masih berkoar-koar tentang hal ini perlu untuk menginstropeksi diri – menjernihkan hati dan pikirannya.

Benar bahwa “Dangdut is the music of my country”, so  itu harus diuri-uri, dilestarikan. Dan benar pulak kalu ndang-dut itu sangat merakyat, kerena telah terbukti bahwa ketika panggung ndang-dutan digelar maka berjubelah rakyat yang mengerumuninya. Tapi kalau per-ndangdutan ini dikaitkan dengaan masalah kesukaan, maka berjubelnya banyak orang di acara ndangdutan bukanlah indikasi bahwa semua orang yang ada disitu suka. Para pencopet yang berada di tengah kerumunan perayaan, belum tentu alirannya ndangdut, karena keberadaannya disitu tujuannya demi sebongkah dompet dan sekeping handphone…..- bukan karena suka musiknya. Pun demikian dengan pernyataan bahwa ndandut itu asyik karena bisah untuk goyang. Pada kenyataannya, ada yang bergoyang karena  keterpaksaan atau ikut-ikutan karena pimpinannya bergoyang, daripada dibilang daripada-daripada….lebih baik bergoyanglah ia. Soal bisa menikmati atau ndak menikmati itu hanya Tuhan dan dirinya sendiri yang tahu.

“Lantas sampiyan sendiri gimana? – suka ndak dengan ndangdut?”

“Maksudnya….. saiya…??”

“Yahh…sampiyanlah…”

“Kalau saiya ndak begidu suka…”

“Maksudnya..??”

“eNgggg…., dibilang suka juga ndak, dibilang ndak suka…pun ndak juga. Jadi….begidulah”

“Lhahh…serdadu itu kan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat…boleh dibilang merakyatlah. Bukankah ndangdut itu merakyat? Lagian ndangdut itu kan asyik untuk bergoyang….? Did you know-kan kalau Dangdut is the music of your country…?? Lantas mengapa sampiyan ndak suka…??”

 “Saiya ndak isahh goyang, kalaupun bisahh itu dalam rangka memberi nafkah batin ke bini saiya akan terlihat wagu dan saiya ndak isahh menikmatinya”

“Ahhh…itu tandanya sampiyan ndak suka….”

“Lhahh… sapa yang bilang ndak suka…?? Saiya hanya ndak begidu….”

“Ahhh…jangan-jangan sampiyan suka tapi malu mengakuinya…”

“Eeennnn….ndak juga”

“Lhaahh…kok di dangdutan kemaren sampiyan bisahh bertahan sampai acaranya bubar??”

“Jahh…. daripada-daripada-lah….”

 ****

 Begidulah kalau bicara masalah kesukaan, selalu ada jawaban/alasan yang ndak masuk akal bin susah dinalar dan menyimpang dari jawaban “pada umumnya” bukan? – makanya, jangan ditanyakan “mengapa”nya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: