Tragis

Syahdan saiya-pun cuman bisa menepuk jidat saiya. Disaat dini hari tadi saiya nungguin El Classico jilid 1 di musim ini, mendadak terjadi hiruk-pikuk pemberitaan di televisi terkait dengan ditangkapnya “Sang Presiden” salah satu parpol oleh petugas KPK.  Ceritanya, yang bersangkutan “patut diduga kuat” terlibat dalam kasus penyuapan.  Wajar atau ndak tindakan saiya yang nepuk jidat itu, saiya ndak teu. Namun….bila entar itu benar-benar terbukti secara meyakinkan di pengadilan, maka alasan saiya menepuk jidat saiya sendiri ini tentunya pada saatnya akan bisa dipahami sebagai tindakan yang wajar tanpa pengecualian. Dan sejenak pemberitaan tentang hingar-bingar sebelumnya tentang banjir Jakarta, meninggalnya  anak dibawah umur akibat tindakkan bejat bapaknya sendiri itu…sampai dugaan penyalahgunaan obat-obatan terlarang seorang artis tenar di negeri ini pun berkurang gaungnya. Semua tajuk pemberitaan di media massa hari ini membicarakan masalah “Sang Presiden” yang berinisial “LHI” itu.

Apa lacur…nasi udah menjadi bubur.

bubur

Spekulasi akan bergerak bak gerakan partikel-partikel yang berhamburan ndak teratur. Semuanya akan tergantung dari giringan si empunya media. Opini akan dibangun secara suka-suka dan pertempuran abab-pun akan di-create hingga buih-buih busanya bisa bertahan lama sampai ada kejadian yang lebih wah lagi terjadi. Begidulah adabnya dan begidu pula-lah “hukum” yang berlaku. Sekilas akan terlihat berimbang, menyampaikan apa-adanya, cover  both side dan entah slogan macam apa lagi yang akan diperdendangkan…. yang jelas media-media pemberitaan itu akan berusaha mengemasnya serapi dan sehalus mungkin hingga maksud yang sebenarnya menjadi terkaburkan.  Menilik banyaknya media elektronik yang menghiasi chanel televisi di negeri ini yang dimiliki oleh para dedengkot parpol, maka menentang pendapat bahwa ada agenda-agenda terselubung dibalik pemberitaan adalah sebuah ke-naif-an.

Apa hendak dikata…. Suara rakyat adalah suara Tuhan.

Dugaan itu meski masih menunggu pembuktian, tetapi tendangannya telah menancap hingga ke ulu hati dan meremukan bathok kepala si empunya. Tsunami politik ini akan menghimpit dan meringsekkan nama baik yang telah dibangun bertahun-tahun. Apa yang dipunya akan lenyap dalam sekejab, apa yang dibanggakan mendadak sontak menjadi bumerang. Akan dibutuhkan banyak uang untuk memperbaiki citra dan diperlukan banyak energy untuk konsolidasi. Kedewasaan dan langkah bijak dalam rangka penyelesaian masalah memang harus dikedepankan daripada melakukan perlawanan membabi-buta yang ujung-ujungnya akan membenarkan atau mengaburkan sebuah kesalahan.

Kejadian ini bisa menimpa sapa saja, karena….

Ingat! Kejahatan terjadi bukan hanya karena niat pelakunya, tapi juga karena adanya kesempatan. Wasdapalah….wasdapalah…wasdapalah!

Jahh…kesempatan itu memang sering membutakan. Tragis!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: