Memburu Gerhana

Lusa bila Tuhan ndak berkehendak lain, Gerhana Matahari Total (GMT) dan Gerhana Matahari Sebagian (GMS) akan dapat dilihat di beberapa wilayah di negeri ini. GMT/GMS ini terjadi karena cahaya matahari terhalang oleh bulan sehingga ndak isah nyampe ke bumi. 33 tahun yang lalu, tepatnya di tanggal 11 Juni 1983 – saiya pernah menyaksikan terjadinya GMT yang melintas di pulau Jawa. Saat itu saiya masih kelas III SD (10 tahun), yang tentu saja ndak berani keluyuran di luar untuk nglihat gimana proses berlangsungnya GMT tersebut. Saiya cuman berani menyaksikannya lewat tayangan yang disiarkan oleh Televisi Republik Indonesia (TVRI). Kini kembali saiya akan merasakan hal yang kurang lebih sama dengan kejadian di 33 tahun lalu tersebut…, bedanya bukan GMT tapi GMS. Jahh…., Jakarta cuman dapat gerhana sekitar 88,76%.gb4

Meskipun begidu, GMS yang lusa bakalan melintas di Jakarta sangatlah layak diperjuangan untuk dilihat, dirasakan, dan diabadikan. Sebagai penggemar fotografi, udah pasti momen ini ndak bakalan saiya lewatkan begidu saja. “Saiya harus bisa memotretnya”, begidu kata hati saiya. Namun siyalnya untuk dapat memotret GMS diperlukan ND solar filter yang harganya lumajan mahal, sehingga untuk golongan “fakir fotografer” yang masih harus mikirin biaya anak sekolah seperti saiya ini harus nyari cara agar dapat njalankan prinsip ekonomi di bidang fotografi, yaitu “ngluarin biaya sekecil-kecilnya untuk ndapatkan hasil yang diinginkan”. Dan inilah yang saiya lakukan….

gb1

Lensa dan filter UV yang udah saiya punya saiya modifikasi dengan menambahkan “kaca las” ukuran 4 x 10 cm seharga 10ribu rupiah di depannya untuk mendapatkan kondisi filter yang aman untuk motret GMS. Dengan sampul buku kwarto bekas saiya bikin dudukan sedemikian rupa sehingga bisa terpasang dengan tepat di filter UV yang udah saiya punya. – Dan inilah hasilnya…

gb2

Untuk meyakinkan modifikasi filter tersebut dapat berfungsi dengan baik atau kagak, maka saiya coba untuk motret lampu dan matahari yang saiya arahkan langsung ke obyek.

gb3

Sambil berharap agar pada hari “H”-nya kondisi cuaca ndak mendung, maka waktu yang ada saiya manfaatkan untuk “gladi” dan nyari lokasi yang tepat. – Jahh… ribet emang, tafi karena GMT/GMS edisi berikutnya yang melintas di tempat yang sama akan terjadi setelah 350 tahun kemudian – maka ribet dikit ndak-pa-pa-lah….mengingat saiya “ndak begidu yakin” akan diberi umur hingga 393 tahun.

Satu Tanggapan

  1. Luar biasa om

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: