Bias Informasi

koranBerawal dari kemudahan dalam mendapatkan/mengakses informasi berwujud audio/visual maupun kumpulan aksara, banyak orang menjadi mulai tertarik untuk ikutan bercerita dan beropini. Seiring dengan berjalannya waktu, lapak-lapak digital yang mewadahi informasi-informasi tersebut semakin banyak  bermunculan. Ada yang berbayar, banyak pulak yang gratisan. Hal ini ndak hanya mendorong banyak orang yang ikutan bercerita dan beropini saja, tapi udah meningkatkan keinginannya untuk berekspresi dalam balutan aktualisasi diri. Dunia maya-pun menjadi riuh.

Cerita, opini, dan ekspresi berbalutan aktualisasi diri bercampur-bawur ndak karuan hingga meringsek eksistensi dari sebuah informasi sebagai asupan bagi jiwa dan nalar yang menguatkan dan mencerdaskan.  Untuk mendapatkan informasi yang tajam, terpercaya, jujur, benar, dan apa adanya – seseorang harus mengorek-ngorek lapak-lapak digital tersebut sampai ke lapisan intinya. Cilakanya, banyak orang yang malas malakukannya, sehingga ndak mengherankan banyak yang terkecoh dan tertipu, hingga rela menjadikan dirinya berubah menjadi pengekor absurbs laksana kerbau yang dicocok hidungnya….

Syahdan…. — kadang informasi itu cuman sekumpulan data mentah yang butuh diolah sebelum digunakan, tapi peradaban instan yang menghendaki semuanya serba cepat telah membuat banyak orang menempatkan informasi menjadi data siap saji tinggal telan tanpa harus dikunyah. Informasi kini seolah telah menjelma menjadi dogma yang diyakini kebenarannya oleh orang-orang yang ndak mau memaksimalkan nalarnya, sehingga ketika informasi itu menampakan “bias”-nya atau muncul data-data yang berbeda, hal tersebut ndak isah diterima. Penyangkalan dangkal bersandingkan amarah kemudian merebak menumbuhkan kecenderungan untuk mengabaikan nalar.

Informasi bukanlah tendangan tanpa bayangannya Wong Fei Hung, bukan pulak senapan SPR-2 produk PT.Pindad bermunisi MU3BLAM yang mempunyai efek bakar dan bisa meledakan target langsung secara bersamaan – namun di tangan ahlinya… informasi bisa diubah menjadi senjata yang mematikan yang mampu merontokan kridibilitas, elektabilitas, popularitas, sensitivitas, hingga menguras isi brankas seseorang secara pelan-pelan dan berkelanjutan. Puncaknya adalah menjadikan kerusakan fatal pada hati dan otak manusia hingga sang manusia ndak mampu lagi mengolah rasa dan nalarnya. Kehancuran-pun tinggal menunggu waktu.

Oleh karena itu —  “Kenalilah musuhmu, kenalilah diri sendiri, maka kau bisa berjuang dalam 100 pertempuran tanpa resiko kalah. — Kenali bumi, kenali langit, dan kemenanganmu akan menjadi lengkap” (Tsun Zu – Art Of War). – Untuk dapat mengenali sesuatu dibutuhkan banyak informasi tentang sesuatu tersebut. Jadihh…- penguasaan informasi adalah hal yang sangat penting untuk memenangkan “perang”, meminimalkan kerusakan, dan sekaligus untuk menangkal segala macam bentuk kekacauan. — “Find the truth. Act on it.”….carilah kebenaran dan bertindaklah atas kebenaran tersebut (Deception Point, Dan Brown).

Olah rasa dan nalar adalah kunci – peka, banyak baca, dan mau menyediakan waktu untuk mengorek lapak-lapak digital hingga ke lapisan intinya adalah upaya agar dapat membedakan antara informasi yang sebenar-benarnya informasi dengan informasi yang sengaja disesatkan.

Be aware!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: