Adakah Media Yang Bisa Dipercaya??

Idealnya — media massa cetak/elektronik (media) itu netral dan selalu berimbang dalam menyampaikan berita-beritanya. Kalaupun harus berpihak, maka kejujuran, mencerdaskan, dan kebenaran-lah yang mestinya dijadikan haluan dalam keberpihakannya. Namun kerasnya persaingan dalam perebutan oplah dan perubahan tata nilai sosial dalam masyarakat pasca reformasi (1998), telah mendorong para pelaku yang berkecimpung dalam dunia media massa untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi agar masih bisa bertahan dan tetap eksis. Ada yang berhasil, tapi banyak pulak yang harus merelakan untuk gulung-tikar.

Ndak isah dipungkiri, bahwa banyak media yang saat ini masih eksis mengalami “gradasi idiologi” sehingga tagline yang dijadikan label jualan terdengar aneh, karena udah ndak tergambarkan lagi dalam berita-berita yang disajikan. Keterbukaan dan kebebasan pers seolah telah dijadikan alat berdalih dan pembenaran untuk menyampaikan segala macam berita tanpa memikirkan dampaknya.–  Akibatnya, tanggung jawab moral terabaikan, bahkan tergadaikan – dan sensasi pun kini menjadi hal yang lebih diutamakan. Memang tidak semuanya….. — tapi banyak yang melakukannya.

Jahh… distorsi media di negeri ini kini telah terjadi secara masif.   Di tengah pusaran kuat kelompok-kelompok yang berpundikan kepeng yang ndak terbatas, media sering kali digoda untuk dijadikan sebagai corong propaganda kepentingan dan membangun opini baik si-empunya kepeng. Ketika terdesak kebutuhan untuk tetap eksis dan dorongan untuk membangun ‘kerajaan bisnis sampingan” yang bisa menopang kelangsungan hidupnya dalam jangka waktu panjang, maka media-pun mengalami dilema antara idealitas dan profesionalitas di satu sisi, serta pragmatisme di sisi lainnya. Akhirnya banyak media yang masa bodoh dengan nama besar dan kridibilitas yang udah dibangun bertahun-tahun dengan tekun tersebut, dan kemudian dengan mudah berganti haluan yang lebih praktis dalam mendapatkan berjibun kepeng.

Pragmatisme media ini semakin menjadi-jadi tatkala terjadi banyak perubahan mendasar dalam tata-laksana/kelola perpolitikan pasca reformasi.  Media-pun kemudian digadang-gadang sebagai salah satu pilar penting demokrasi dan menjadi partner utama bagi siapapun yang ingin berkuasa. Kemampuan media dalam melakukan penetrasi di segala lini dengan daya jangkau yang hampir ndak terbatas membuat suasana ruang publik (public sphere) menjadi lebih dinamis. Inilah yang kemudian mengundang banyak pihak yang berkecimpung dalam dunia politik ingin memanfaatkan media secara maksimal demi tercapainya tujuan yang diinginkan, sekaligus untuk mengamankan kepentingan mereka dari upaya jarah dari pihak lain —  Dan seperti gayung-bersambut, media-pun menangkap kondisi tersebut sebagai peluang untuk memperluas variasi jualan jasa mereka – yang sebelumnya hanya berkutat pada konten pemberitaan dan space iklan… kini merambah hingga meng-create dan menggoreng isu-isu politik serta pencitraan. Secara berlahan media mempersempit ruang publik pada lapak mereka dan menggantikannya dengan orderan politik yang menghadirkan lebih banyak kepeng.

Entah apa yang salah dengan era keterbukaan informasi di negeri ini, — yang jelas kini justru lebih banyak yang ndak jelas. Media yang seharusnya membuat semua menjadi terang-benderang, malah membuatya jadi samar dan membingungkan.  Tanggung jawab media ke publik sekarang sudah bersanding dengan kewajiban melaksanakan perintah dari sang pemberi order. Independensi tinggal kenangan, fungsi katalisator bagi pihak-pihak yang berkonflik-pun udah semakin surut, karena media ikutan berkonflik dan justru memancing kegaduhan di publik. Bahasanya semakin kacau, narasinya-pun payah dan seringkali mengancam, sehingga harapan menjadikan media menjadi oasis yang menyejukkan atau obat penyembuh luka… semakin jauh panggang dari api. —

Menyaksikan apa yang dilakukan media-media saat ini, kayak nglihat perang antar kartel ajahh. Masing-masing punya agenda yang saling meniadakan, tapi tetap berjumawa mengaku yang paling benar. Yang satu punya kelompok fanatik, yang lainnya-pun kurang lebih sama juga. — Bagi pembaca/penikmat informasi, mereka akan menyediakan waktu untuk menelisik dan mencari tahu siapa dibalik media tersebut. Siapa owner-nya, siapa kliennya, berafiliasi dengan siapakah mereka, ….dst…dst. — Mungkinkah pada akhirnya ditemukan sebuah “kartel informasi” yang mengatur pemberitaan selama ini ?? — atau mungkin…sebenarnya telah terjadi kolosi secara diam-diam antar media demi meraup kepeng dengan jalan menciptakan konflik palsu…?? — Ahh… auah helap.

 Adakah media yang sampiyan percaya saat ini??

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: