Gombalan Babak 16 Besar s.d. Final Euro 2016

Mulai malam hari entar hingga 2 hari ke depan gelaran Piala Eropa akan memasuki babak 16 Besar (per-delapan final) dengan menggunakan sistem gugur. — Hasil dari Babak Penyisihan Grup kemaren emang sedikit mengejutkan. Tim-tim yang diprediksi oleh banyak kalangan (termasuk saiya) menjadi juara grup, ternyata ada beberapa yang meleset — sebut saja Spanyol, Inggris, Portugal, dan Belgia. Hal ini mengakibatkan skema pertandingan di babak 16 besar yang sudah ditentukan sebelumnya menjadi terlihat aneh. Di satu bagian akan mempertemukan tim-tim besar untuk menuju ke final dan di bagian lainnya boleh dibilang hanya akan mempertemukan “tim kelas 2” – Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di skema pertandingan dan jadwal babak 16 besar di bawah ini:

 

BAGAN 16 BESAR

Berdasarkan skema pertandingan di atas, maka pada hari Kamis, 23 Juni 2016, pukul 15.30 Wib yang lalu saiya mencoba untuk membuat prediksi dari babak 16 besar hingga babak final… berikut siapa yang bakalan jadi juaranya (lihat gb. skema pertandingan di bawah ini). Baca lebih lanjut

Adakah Media Yang Bisa Dipercaya??

Idealnya — media massa cetak/elektronik (media) itu netral dan selalu berimbang dalam menyampaikan berita-beritanya. Kalaupun harus berpihak, maka kejujuran, mencerdaskan, dan kebenaran-lah yang mestinya dijadikan haluan dalam keberpihakannya. Namun kerasnya persaingan dalam perebutan oplah dan perubahan tata nilai sosial dalam masyarakat pasca reformasi (1998), telah mendorong para pelaku yang berkecimpung dalam dunia media massa untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi agar masih bisa bertahan dan tetap eksis. Ada yang berhasil, tapi banyak pulak yang harus merelakan untuk gulung-tikar. Baca lebih lanjut

Memburu Gerhana (bagian ke-3/tamat)

Plung. – Tiba-tiba ND solar filter bikinan yang nempel di lensa saiya terjatuh, ketika baru aja gerhana itu mulai. — “sejuta topan badai….. kepiting busuk…bashi-bazouk…kleptomaniak, ectoplas….sea gherkin…anacoluthon…. “, bak Kapten Haddock saiya pun mengumpat sejadi-jadinya. Gimana endak coba….- rencana yang begidu matang bakalan ancur berantakan karena keteledoran saiya yang kurang hati-hati saat mau ngrubah posisi kamera. Dari atas saiya lihat filter itu jatuh di pinggiran jalan tol. Kampret.

“Lewat sebelah sana aja mas…., mungkin ada jalan turun”, saran seorang ibu-ibu. – Saiya lihat pinggiran jalan tol itu berpagar dan kayaknya ndak berpintu. Secercah harapan muncul ketika saiya lihat ada celah pada pagar tersebut. Dengan nekat saiya melalui celah tersebut untuk mencapai pingiran jalan tol. Dan….hureeee…. berhasil. – Blessing in disguise…., kalo filter saiya ndak terjatuh, saiya ndak bakalan dapat gambar seperti ini…

Baca lebih lanjut

Jangan Tanyakan Mengapa

njepretIni bukan soal gaya-gayaan atau sok kaya, jika kemudian saiya punyak kamera yang ndak isah disakuin berjudul Sony SLT A-35. Ini urusannya dengan masalah kesukaan. Namanya suka, maka “menguber” adalah konsekuensi logisnya. Seperti halnya orang yang suka golf (misalnya). Para Golfer inipun juga selalu ingin menguber waktu luang untuk mukal-mukul bola di padang rumput dengan tongkat pemukul yang harga satu bag-nya boleh dibilang ndak murah. Bahkan, bila ndak ada waktu luang-pun….kadang yang rasa sukanya udah ndak ketulungan (addict) akan berusaha untuk meluang-luangkan waktu yang ada. Hari minggu yang disebut oleh banyak orang sebagai hari tidur nasional atau hari keluarga sedunia tetap akan dihajar untuk ber-golf-ria. Saiya rasa para penyuka kegiatan lainnya juga ndak begidu jauh beda kelakuannya.

Baca lebih lanjut

The Lost Symbol di Mata Saya

Sebelum para komentator di cover belakang berkata demikian… saiya sebenarnya dah nduga kalo Novel karya Dan Brown itu “memang enak dibaca dan perlu”, melebihi apa yang dikatakan tag sebuah majalah. Maklum…, saiya adalah penggemar berat karya-karyanya. Dari Angels and Demons, Da Vinci Code, Benteng Digital sampai Deception Point – semua dah saiya baca. Saiya memang mengoleksinya. Dan yang saat ini sedang saiya baca adalah “The Lost Symbol”.

Sangat disayangkan kalo cepat dihabiskan!”, begidulah kata bini saiya. Menikmati novel-nya Dan Brown emang membikin ketagihan. Setiap lembar demi lembar selalu saja memunculkan multi imajinasi. Dalam benak saiya yang terpampang bukanlah deretan tulisan, tetapi berbagai macam adegan pada sebuah film. Makanya…, dua karya sebelumnya (Angels and Demons dan Da Vinci Code) yang di-film-kan membutuhkan aktor sekaliber Tom Hanks untuk memerankan tokoh sentralnya yang bernama Robert Langdon itu. Baca lebih lanjut

Perkenankanlah Saya Buka-Bukaan

Baju itu hanya untaian kain yang dirangkai berdasarkan pola tertentu. Macam dan bentuknya itu bukanlah hal yang terpenting. Yang paling penting adalah tujuan/fungsinya. Yaitu — menutupi badan, melindungi dari hawa dingin dan sengatan matahari plus gigitan serangga. Soal keindahan yang kemudian bisa merubah penampilan hingga terlihat necis semlohe bin aduhai… itu hanya sekedar efek saja. Itu bukan alasan utama mengapa manungsa memakai baju (berbaju).

Cilakanya…, efek yang sebenarnya cuman sekedar “hasil ikutan dari ritual berbaju” itu… justru kini telah berubah menjadi tujuan/fungsi utama. Bolang-bolong disana-sini bukanlah suatu masalah. Full press body dan panjangnya yang sangat minim bila dikenakan pun juga ndak jadi soal lagi. Toh gigitan serangga bisa dilawan dengan olesan lotion anti serangga. Sengatan panas matahari bisa juga ditangkal dengan baluran tabir surya. Sementara fungsinya sebagai penutup badan (aurat)…. seiring dengan perjalanan waktu, sudah menjadi hal yang tidak begidu diperhatikan lagi. Sekarang ini banyak yang berpendapat kalau bagian-bagian tubuh itu adalah etalase diri, yang (tentunya) sangatlah sayang kalau ndak ditonjolkan. Baca lebih lanjut

Diskusi Dengan Baginda tentang Dunia Maya

Bukan saiya ndak mau nanggapi dengan serius. Tidak. Bukan itu yang saiya maksud. Dunia maya bagi saiya adalah tempat untuk ber-ekspresi. Mengungkapkan apa yang ingin saiya sampaikan — menyampaikan apa yang ingin saiya ungkapkan. Meski ada di benak, tapi jika itu ndak ingin saiya ungkapkan/sampaikan… maka cukup saiya sendiri aja yang teu. Baginda ndak usah (teu).

Lhoh kok gituu.??

Percuma Baginda menduga-duga apa yang ada dibenak saiya, karena belum tentu itu ada hubungannya dengan baginda. Bertanya untuk minta penjelasan itu mungkin yang paling bijaksana – tapi sudahlah… meski Baginda bertanya, bertanya dan terus bertanya… belum tentu juga pertanyaan-pertanyaan Baginda itu akan saiya jawab. Sekali lagi… saiya hanya akan sampaikan apa yang ingin saya ungkapkan dan hanya ingin ungkapkan apa yang ingin saiya sampaikan.

Kenapa harus demikian..?? Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: