Bersahabatlah Dengan Sang Waktu

#ajamTidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan. semuanya pasti akan selesai juga. Kalau karena sesuatu dan lain hal masalah itu tidak terselesaikan – maka masih ada Sang Waktu yang akan menyelesaikannya. Ini bukan perkara lari dari tanggung jawab.  Tetapi – ini bicara soal kemampuan.

Bahwa kemampuan manungsa itu ada batasnya. Ini tidak tak terbantahkan. Oleh karenanya – buat apa memaksakan diri? Berusaha memang harus. Tetapi kalau sudah berdaya-upaya sekuat tenaga – segenap kemampuan telah dicurahkan masih tetap ndak bisa menyelesaikan – maka pasrah adalah satu-satunya jalan.  Ini tidak ditabukan. Malah dianjurkan.

Beruntung kita dilingkupi oleh dimensi waktu. Pun begidu, sering kali kita enggan bersahabat dengannya. Waktu lebih sering kita tempatkan sebagai sesuatu yang membatasi. Dipersalahkan karena seolah tidak pernah mencukupi – dikambing-hitamkan sebab dianggap habis manakala mentok di tengah jalan.

Baca lebih lanjut

Iklan

Godaan Itu Akan Selalu Ada

Jahh… meskipun pintu neraka dikunci, tetapi syaiton yang ada di hati masih bisa teriak lantang – menggoda siapa saja yang tidak focus dalam menjalankan ibadahnya.  Nah, kalo kemudian di bulan yang penuh dengan berkah ini masih ada manusia yang ndak mendapatkan keberkahan… saiya kira bisa dimaklumi. Begidulah manusia. Rentan terhadap godaan.

Baca lebih lanjut

Ngowos Tentang Keyakinan

Jahh…. kadang posisi emang menentukan rejeki. Tapihh, jangan keburu nuduh nyang ndak-ndak duwelu. Masalahhnya… ndak semuwa nyang berada di “posisi puenaak” entuhh, rezeki nyang didapat dari hasil berbuwat curang, mengkorup atohh memanfaatkan “posisi puenaak” entuhh (baca:jabatannya).

Positif thinking ajahh, mungkin emang di tubuhnya mengalir darah juragan kepunyaan ortu atohh mertuwanya… sapa teu? Yaa… ndak??! Jahh… kalo-pun ada nyang curang, mudah-mudahan ajahh cepat disadarkan. Jika ndak sadar-sadar….. saya yakin mereka nantinya akan mangslup neraka, ndak di surga. Baca lebih lanjut

Lidah & Rekan Sejawatnya

Lidah itu memang ndak ada tulangnya.  Oleh karenanya… gerakanya sangat lentur dan mudah dimainkan. Bersama rekan sejawatnya, yaitu mulut dan pita suara yang berada di kerongkongan…, ketika ketinganya bersinergi – maka akan dihasilkanlah berbagai macam suara.  Namun meskipun begidu, tanpa printah dari si-pemiliknya maka si lidah tersebut ndak akan bisa bergerak. Artinya bahwa si-pemilik lidah-lah yang berkuasa penuh atas pergerakannya. Dalam menghasilkan suara, lidah mempunyai peranan yang sangat penting. Tanpa pergerakan lidah, maka suara yang dihasilkan jadi “ndak bernada”.

Dalam kehidupan, manusia adalah makhluk sosial yang ndak isah hidup sendiri tanpa batuan dari makhluk lainnya. Bahwa setiap manusia dalam hidupnya selalu menginginkan “ke-enakan sepanjang masa” dan kalo bisahh “ke-enakann yang tiada tara-nya” maka untuk mewujudkan keinginannya tersebut… mau ndak mau mereka harus mau menjaga hubungan baik dangan sesamanya maupun dengan makhluk lainnya. Nahh, disinilahh letak pentingnya lidah dan rekan sejawatnya yang bernama mulut dan pita suara itu.

Kesatuan dari ketiga organ nyang ada di diri manungsa entuhh emang dahsyat. Sampai-sampai para pujangga tanah Jawa menyatakan kalo “Ajining diri iku gumantung songko ing lathi”, yang artinya bahwa harga diri seorang manusia itu (salah satunya) ditentukan bagaimana mereka menggunakan lidah-nya.

Kedahsyatan lidah inipun seringkali disamakan dengan ketajaman sebuwah pedang, bahkan konon kabarnya bisahh lebih tajam dan efek tusukan yang ditimbulkan bisa lebih parah dan berdarah-darah daripada pedangnya “Highlander” sekalipun. Karna lidah juga… si Malin Kundang jadi batu, Roro Jonggrang yang semlohe pun bisahh berubah jadi arca, dan pada kasusnya Sangkuriang… pergerakan lidah yang dikombinasikan dengan sedikit tendangan plus amarah… prahu (kapal) yang segedhe gaban bisa nangkring terkelungkup menjadi gunung. Hmmm… unbelieveable!

Jahh…  meskipun diam itu adalah emas, tapihh ndak selalu dengan berdiam akan menyelesaikan masalah. Sebaliknya…, masalah pun juga ndak akan kelar kalo hanya mengandalkan jeplakan yang merupakan hasil kerja lidah dan rekan sejawatnya itu. Lantas bagaimana seharusnya?? – Jahh…, menggunakan lidah secara lebih bijaksana, tepat guna dan tepat waktu adalah jawabannya.  Ketepatan dalam menggunakan lidah ini perlu dilakukan supaya kita bisa menikmati  wujud nyata dari “keindahan” roro jonggrang dalam wujud aslinya bukan hanya dalam bentuk arca-nya. Biyar ndak ada lagee prahu yang karam diatas gunung atau kutukan yang menyebabkan seorang anak manusia berubah jadihh batu. Karena emang diri kita sendiri-lah nyang berkuasa penuh atas pergerakan lidah dan rekan sejawatnya maka stop menggunakan lidahh secara sembarangan.

Syahhdan… tahab akher kampanye pilpres suwedah hampir selesai dan akan diakhiri dengan pencontrengan kerta suwara di bilik-bilik suwara nyang tersebar di seluruh negeri enihh pada 8 Juli besok.  Tapihh efek dari kerja lidah dan rekan sejawatnya selama enihh…, suwedah barang tentu ndak akan hilang begidu ajahh. Mungkin akan meninggalkeun bekas luka nyang menganga.  Tentu ajahh saiya nyang suwangat pro dengan kedamaian nyang “kebetulan” ndak bisahh ikutan “berpesta” pada acara tersebut cuman bisahh berharap agar jeplakan menyakitkan buwah hasil karya lidah dan rekan sejawatnya entuhh… efeknya ndak sampai membawa negeri enihh kembali ke zaman puba. Sapa-pun nyang akan jadihh pemenangnya.

Jahh sapahh-pun nyang akan jadihh pemenangnya!

Buwatlah Banyak Harapan

Hidup adalah misteri. Tidak isahh dipastikan tapihh mungkin bisahh diduga-duga. Kalau sampiyan percaya dengan nyang namanya hukum sebab-akibat, mangka “menduga-duga” adalah efek lanjutan nyang muncul begidu ajahh (spontan) manakala manungsa melihat kejadiyan nyang “wah” didalam kehidupan enihh.  Dan sebagai ekses dari proses “duga-menduga” entuhh, mangka muncullah berbagai macam spekulasi nyang berujung pada pertanyaan-pertanyaan. Mengapa…. Kenapa… Kok bisahh… adalah beberapa contoh kata tanya nyang lebih sering menyertai pertanyaan-pertanyaan nyang terlontar dari benak daripada kata tanya lain nyang terdapat dalam kosa kata Bahasa Indonesia.

Keinginan untuk mengetahui Baca lebih lanjut

Menjaga Image, Haruskah?

Itu semacam default bagi setiap makhluk Tuhan yang bernama manusia jika (masih) ingin dipandang sebagai ”manusia yang baik” oleh manusia lain disekelilingnya. Atau dapat dikatakan bahwa ”eksistensi kebaikan manusia” ini sangat ditentukan dari kemampuan manusia dalam menjaga image-nya. Jika kemudian manusia di kolong negeri ini lebih suka mengkonotasikan negatif arti menjaga image dengan memunculkan istilah ”ja-im” dalam kehidupannya, bisa jadi itu semua karena cara yang digunakan (untuk menjaga image-nya) terkadang sering membuat ”muntah” manusia disekelilingnya.

Misalnya saja…. Baca lebih lanjut

Refleksi 4 Tawun Menjelang Usia Berkepala 4

Udah lumayan tuwa juwega saiya ternyata. Ndak terasa babarblas, 4 tawun lage umur saiya dah berkepala 4! Cilakanya…, saiya masehh sering lupa kalo dah 36 tawun saiya merajut kisah di bumi enihh. Misalnya ajahh, saiya masehh suweka dengan musik gedombrengan ala Metallica, begadang hingga larut malam, berbicara atao tepatnya ngejeplak di blogosphere enihh dengan menggunakan logat dan kosa kata nyang ndak jelas juntrungannya…, pun saiya lakukan dengan tanpa beban. Terkadang, kalo dah bergurau ama anak (Farrel)… saiya jadihh kayak anak nyang se-umuran dengannya. Bahkan, meski udah hampir 10 tawun saiya nikah…, saiya masih suweka roman-romanan ala anak abegeh nyang sedang dimabuk asmara. Ampyuuuunnnn dah guwaaaa…wakkk kaa kaa kaaakkkk.

Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: