Wuaaaaasyuuuu….

wass“Hari ini mbayar, besok gratis” – Jahh…. ungkapan suka-suka ala angkutan berbayar ini memang sangat “menggemaskan”. Bak sebuah janji bahwa ke-gratis-an itu bakalan didapatkan di kemudian hari, padahal kenyataannya hal tersebut ndak akan pernah terjadi – bahkan sampai kiamat tiba. Namun lutjunya, ketika baru pertama kali mbaca kalimat tersebut, secara ndak sadar otak ini telah terakuisisi oleh harapan sesaat yang menggiurkan itu tanpa ampun. Cuman sesaat, setelahnya….,“Wuaaaasyuuu…” – pada sebagian orang, demikian-lah yang akan mereka katakan kemudian.  Jahh, sungguh sangat cerdas yang menciptakannya.

Pada suatu ketika Pak Joko Widodo (JokoWi) berhasil memenangkan hati rakyat Jakarta dan didudukkanlah beliau di kursi DKI-1. Maka munculah banyak harapan. Dan harapan itu semakin menjadi-jadi dikala aksi blusukannya diekpose secara membabi-buta olah beberapa stasiun televisi. Sehari-tiga kali, itu minimal…. Pagi – siang – malam, bak minum obat saja. Bahkan di dini hari ada sebagian stasiun TV yang menayang-ulangkannya. Semuanya terhanyut dan secara ndak sadar pulak para warga Jakarta telah melabeli JokoWi sebagai seorang “pesulap” selain sebagai gubernur. Apakah ini cuman harapan sesaat atau berkelanjutan? – ndak tahu. Tapi yang jelas, sampai saat ini belum ada yang mengatakan “wuaaaaasyuuu”….meski Jakarta masih bersahabat erat dengan sang banjir dan si kemacetan. Jahh, sungguh sangat penyabar warga Jakarta sekarang. Baca lebih lanjut

Iklan

Tahun Baru Semangat Baru

Banyak kejadian, berpuluh peristiwa dan segudang cerita di 2009 akan menjadi kenangan. Mungkin tidak semuanya, karena masih ada kejadian, peristiwa dan cerita yang masih akan berlanjut untuk diselesaikan di tahun selanjutnya. Tetapi yang jelas… di lembar almanak, deretan angka yang akan sering terlihat adalah 2010.

Alhamdulillah. Tahun ini saiya bisa melaluinya dengan aman, lancar, sehat wal afiat, terkendali dan lumayan stabil. Meski masih ada yang kurang ini-itu disana-sini… semua itu saiya anggap sebagai sebuah berkah karena di tahun depan saiya ndak perlu lagi repot-repot nyari PR (Pekerjaan Rumah) — sudah ada yang akan saiya kerjakan dan telah tersedia yang akan saiya perbaiki. Tinggal menetapkan dan memilih saja mana yang akan saiya eksekusi duluan. Baca lebih lanjut

Ngowos Tentang Keyakinan

Jahh…. kadang posisi emang menentukan rejeki. Tapihh, jangan keburu nuduh nyang ndak-ndak duwelu. Masalahhnya… ndak semuwa nyang berada di “posisi puenaak” entuhh, rezeki nyang didapat dari hasil berbuwat curang, mengkorup atohh memanfaatkan “posisi puenaak” entuhh (baca:jabatannya).

Positif thinking ajahh, mungkin emang di tubuhnya mengalir darah juragan kepunyaan ortu atohh mertuwanya… sapa teu? Yaa… ndak??! Jahh… kalo-pun ada nyang curang, mudah-mudahan ajahh cepat disadarkan. Jika ndak sadar-sadar….. saya yakin mereka nantinya akan mangslup neraka, ndak di surga. Baca lebih lanjut

Lidah & Rekan Sejawatnya

Lidah itu memang ndak ada tulangnya.  Oleh karenanya… gerakanya sangat lentur dan mudah dimainkan. Bersama rekan sejawatnya, yaitu mulut dan pita suara yang berada di kerongkongan…, ketika ketinganya bersinergi – maka akan dihasilkanlah berbagai macam suara.  Namun meskipun begidu, tanpa printah dari si-pemiliknya maka si lidah tersebut ndak akan bisa bergerak. Artinya bahwa si-pemilik lidah-lah yang berkuasa penuh atas pergerakannya. Dalam menghasilkan suara, lidah mempunyai peranan yang sangat penting. Tanpa pergerakan lidah, maka suara yang dihasilkan jadi “ndak bernada”.

Dalam kehidupan, manusia adalah makhluk sosial yang ndak isah hidup sendiri tanpa batuan dari makhluk lainnya. Bahwa setiap manusia dalam hidupnya selalu menginginkan “ke-enakan sepanjang masa” dan kalo bisahh “ke-enakann yang tiada tara-nya” maka untuk mewujudkan keinginannya tersebut… mau ndak mau mereka harus mau menjaga hubungan baik dangan sesamanya maupun dengan makhluk lainnya. Nahh, disinilahh letak pentingnya lidah dan rekan sejawatnya yang bernama mulut dan pita suara itu.

Kesatuan dari ketiga organ nyang ada di diri manungsa entuhh emang dahsyat. Sampai-sampai para pujangga tanah Jawa menyatakan kalo “Ajining diri iku gumantung songko ing lathi”, yang artinya bahwa harga diri seorang manusia itu (salah satunya) ditentukan bagaimana mereka menggunakan lidah-nya.

Kedahsyatan lidah inipun seringkali disamakan dengan ketajaman sebuwah pedang, bahkan konon kabarnya bisahh lebih tajam dan efek tusukan yang ditimbulkan bisa lebih parah dan berdarah-darah daripada pedangnya “Highlander” sekalipun. Karna lidah juga… si Malin Kundang jadi batu, Roro Jonggrang yang semlohe pun bisahh berubah jadi arca, dan pada kasusnya Sangkuriang… pergerakan lidah yang dikombinasikan dengan sedikit tendangan plus amarah… prahu (kapal) yang segedhe gaban bisa nangkring terkelungkup menjadi gunung. Hmmm… unbelieveable!

Jahh…  meskipun diam itu adalah emas, tapihh ndak selalu dengan berdiam akan menyelesaikan masalah. Sebaliknya…, masalah pun juga ndak akan kelar kalo hanya mengandalkan jeplakan yang merupakan hasil kerja lidah dan rekan sejawatnya itu. Lantas bagaimana seharusnya?? – Jahh…, menggunakan lidah secara lebih bijaksana, tepat guna dan tepat waktu adalah jawabannya.  Ketepatan dalam menggunakan lidah ini perlu dilakukan supaya kita bisa menikmati  wujud nyata dari “keindahan” roro jonggrang dalam wujud aslinya bukan hanya dalam bentuk arca-nya. Biyar ndak ada lagee prahu yang karam diatas gunung atau kutukan yang menyebabkan seorang anak manusia berubah jadihh batu. Karena emang diri kita sendiri-lah nyang berkuasa penuh atas pergerakan lidah dan rekan sejawatnya maka stop menggunakan lidahh secara sembarangan.

Syahhdan… tahab akher kampanye pilpres suwedah hampir selesai dan akan diakhiri dengan pencontrengan kerta suwara di bilik-bilik suwara nyang tersebar di seluruh negeri enihh pada 8 Juli besok.  Tapihh efek dari kerja lidah dan rekan sejawatnya selama enihh…, suwedah barang tentu ndak akan hilang begidu ajahh. Mungkin akan meninggalkeun bekas luka nyang menganga.  Tentu ajahh saiya nyang suwangat pro dengan kedamaian nyang “kebetulan” ndak bisahh ikutan “berpesta” pada acara tersebut cuman bisahh berharap agar jeplakan menyakitkan buwah hasil karya lidah dan rekan sejawatnya entuhh… efeknya ndak sampai membawa negeri enihh kembali ke zaman puba. Sapa-pun nyang akan jadihh pemenangnya.

Jahh sapahh-pun nyang akan jadihh pemenangnya!

Buwatlah Banyak Harapan

Hidup adalah misteri. Tidak isahh dipastikan tapihh mungkin bisahh diduga-duga. Kalau sampiyan percaya dengan nyang namanya hukum sebab-akibat, mangka “menduga-duga” adalah efek lanjutan nyang muncul begidu ajahh (spontan) manakala manungsa melihat kejadiyan nyang “wah” didalam kehidupan enihh.  Dan sebagai ekses dari proses “duga-menduga” entuhh, mangka muncullah berbagai macam spekulasi nyang berujung pada pertanyaan-pertanyaan. Mengapa…. Kenapa… Kok bisahh… adalah beberapa contoh kata tanya nyang lebih sering menyertai pertanyaan-pertanyaan nyang terlontar dari benak daripada kata tanya lain nyang terdapat dalam kosa kata Bahasa Indonesia.

Keinginan untuk mengetahui Baca lebih lanjut

Hai Klaten…, Apa Kabraaa??

klaten1Adalah Kota Klaten. Sebuwah kabupaten nyang terletak diantara duwa kota nyang merupakan ikon budaya di tanah jawa, Jogja dan Solo. Konon kabarnya… manungsa dari daerah enihh (Klaten) adalah manungsanya super halus, andap-asor, tepo-sliro, sederhana dan ndak neko-neko. Hal inihh sangat bisah dimaklumi. Lhahh… gemana ndak?? Haa-kalo sifat dasar nyang dah baek trus ketambahan sifat nyang baek-baek dari duwa Kraton nyang berada dikanan-kirinya entuhh…, apa ndak jadihh super baek ??!!

Emang setelah saya amati dgn seksama, agaknya sifat nyang baek-baek dari dua Kraton entuhh pada ngumpul ke tengah semuwa. Sedangkan nyang jelek-jelek (sepertinya) pada tersapu ombak Laut Selatan dan terseret arus sungai Bengawan Solo. Jahh…. melihat Klaten, serasa menyaksikan indahnya perpaduwan duwa pusat kebudayaan nyang adi-luhung, Kraton Juwogjahh dan Soulo. (*haaiiyahhh..*) 😆 :mrgreen:

Ehh… benar lhoo. Lihatlah pada indahnya Candi Prambanan dan jernihnya sumber air nJolotundo atau di Cokro Tulung. :mrgreen: :mrgreen:

Baca lebih lanjut

Mohon doanya…

Dan kemudian seperti tahun-tahun sebelumnya… hari ini kembali saya disadarkan. Sudah puluhan kali saya diingatkan… tapi rasanya saya masih sering lupa. Banyak janji yg terucap… namun selalu ada aja alasan yg saya ciptakan buat mengingkarinya. Pembenaran dan pemaafan pun saya lakukan meski sebenarnya saya tahu bahwa semuanya itu adalah kesalahan yg seharusnya mendapatkan hukuman…. bahkan berlindung dibalik “ketidaksempurnaan sebagai manusia” sering juga saya jadikan mantra utama manakala saya melakukan kealpaan yg berulang-ulang. So…, ampuni saya ya Tuhan…
Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: