Pidato Kenegaraan Presiden RI Dalam Rangka HUT Ke-65 Kemerdekaan Republik Indonesia

Dirgahayu Republik Indonesia… maka selesailah Pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia, DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO. Setelahnya, muncul berbagai macam tanggapan. Ada yang nanggapi landai-landai saja, ada yang memuji – tapi ada pula yang mengritik dengan asal njeplak seolah mereka, para pengritik itu menyimak semuwa yang disampaikan Sang Presiden (nya) dengan seksama. Padahal, belum tentu mereka – para pengritik itu dengan seksama menyimak apa yang disampaikan Sang Presiden (nya?). Baca lebih lanjut

Iklan

Gaung Agustusan

Agustusan tahun ini agak sedikit beda dengan tahun-tahun sebelumnya. Gaungnya ndak begidu terasa. Mungkin karena jatuhnya bertepatan dengan Bulan Puasa, sehingga pada ”kagok” semuwa. Padahal dulu — Proklamasi Kemerdekaan sewaktu dibacakan Soekarno-Hatta juga bertepatan dengan Bulan Puasa lohh. Dilema-kah ini namanya?

Saiya ndak teu bagaimana yang terjadi di tempat tinggal sampiyan. Kalau di komplek saiya ”Gaung Agustusan”-nya memang agak sedikit menurun. Ndak semeriah tahun lalu. Sampai sekarang saiya ndak dapat undangan dari RT saiya untuk rapat ini-itu yang berkaitan dengan peringatan 17-an. Mungkin karena sudah di-handle oleh dinas, sehingga pada ”pasrah bongkokan” semuwa. Payah-kah ini namanya? Baca lebih lanjut

Ironis

Ndak teu saiya, mengapa setiap melihat simbol-simbol Negara dilecehkan – mendadak sontak saiya bisa ndongkol alang-kepalang. Lhaa coba sampiyan bayangkan, untuk mendapatkan dan menciptakannya saja ndak-lah mudah, bahkan bergalon-galon darah sampai ditumpahkan – ribuan nyawa pun ikut dikorbankan…. lhaa kok ini yang ndak pernah ikut berjuang bisa seenaknya melecehkan. Jall… coba sampiyan pikir, apa ndak gebleg itu namanya? Baca lebih lanjut

Sekapur Sirih Agustusan 2010

Agustus telah tiba. Sebentar lagi Indonesia akan ber-ulang tahun yang ke-enampuluh lima. Sebagai salah satu warganya, tentu saja saiya ikut berbahagia dan mensyukuri bahwa negeri ini masih bisa berdiri.  Oleh karenanya, sebagai wujud dari rasa bahagia dan rasa syukur tersebut, saiya akan kembali membuat postingan yang bernuansa Merah Putih. Baca lebih lanjut

Terimakasih Atas Kehadirannya Kawan

Menyenangkan sekali…
Ini bukan masalah “memenuhi target“… tapi lebih kepada “proses pembelajaran diri”. Setidaknya demikianlah yang ada di benak saiya pada saat akan memulai me-launching Edisi Merah-Putih di blog saiya ini.

Menyenangkan sekali…
Ini adalah kali kedua saiya membuat event dalam rangka ikut mengayu-bagyo Peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia – Negeri yang sangat saiya cintai. Selama 17 hari – dimulai sejak tanggal 1 Agustus dengan postingan yang berjudul Berbuat Baik-lah Demi Indonesia dan postingan terakhir pada tgl 17 Agustus kemaren — Refleksi 64 Tahun Kemerdekaan Indonesia, telah saiya publish dengan sukses.

Menyenangkan sekali…
Bahwa 10 buah postingan di Edisi Merah-Putih tahun ini masih sangat jauh dari kata bagus,  tetapi paling tidak… saiya telah berhasil menciptakan tradisi “baik” di blog saiya ini, yang semoga bisa terus saiya agendakan di setiap tahunnya. Baca lebih lanjut

Refleksi 64 Tahun Kemerdekaan Indonesia

Setelah Sang Dwi Warna berkibar – menjaga agar tetap berada di puncaknya adalah kewajiban. Bahkan semestinya – puncaknya harus senantiasa ditinggikan, biar generasi mendatang bangsa ini masih bisa memandangnya.  Tidak hanya sekedar memandang – tetapi menatap dengan penuh kebanggaan, melihat tanpa pernah sedikitpun berpaling.

Indonesia adalah milik kita bersama. Bukan hanya punya pemerintah yang berkuasa atau sekelompok orang yang punya uang saja. Tetapi kita. Jahh… kita semua-lah yang menjadi owner dari negara yang bernama Indonesia ini.

Baca lebih lanjut

PIDATO KENEGARAAN PRESIDEN SBY

Melanjutkan pidato pertama-nya, kemaren (14/8/09) — Presiden SBY menyampaikan Pidato Kenegaraan  di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat, dengan tema Refleksi Kemerdekaan dan Dinamika Perjalanan Bangsa. Secara umum – saiya mengatakan…. bagus! (*haiiyahh!*)

pidato sbySejenak saiya terbelalak melihat aksi mimbar Beliau yang lancar-jaya dalam berorasi. Pembawaan sangat tenang. Gerak tangan berikut expresi wajahnya mantap.  Pandangan matanya mampu menyapu hingga ke sudut-sudut ruangan.  Rangkaian kata yang dilontarkan begitu rapi dan sistimatis.  Padahal – tidak ada secarik kertas pun yang ada dihadapannya. Seolah-olah beliau menyampaikan secara langsung tanpa teks. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: