Memburu Gerhana (bagian ke-3/tamat)

Plung. – Tiba-tiba ND solar filter bikinan yang nempel di lensa saiya terjatuh, ketika baru aja gerhana itu mulai. — “sejuta topan badai….. kepiting busuk…bashi-bazouk…kleptomaniak, ectoplas….sea gherkin…anacoluthon…. “, bak Kapten Haddock saiya pun mengumpat sejadi-jadinya. Gimana endak coba….- rencana yang begidu matang bakalan ancur berantakan karena keteledoran saiya yang kurang hati-hati saat mau ngrubah posisi kamera. Dari atas saiya lihat filter itu jatuh di pinggiran jalan tol. Kampret.

“Lewat sebelah sana aja mas…., mungkin ada jalan turun”, saran seorang ibu-ibu. – Saiya lihat pinggiran jalan tol itu berpagar dan kayaknya ndak berpintu. Secercah harapan muncul ketika saiya lihat ada celah pada pagar tersebut. Dengan nekat saiya melalui celah tersebut untuk mencapai pingiran jalan tol. Dan….hureeee…. berhasil. – Blessing in disguise…., kalo filter saiya ndak terjatuh, saiya ndak bakalan dapat gambar seperti ini…

Baca lebih lanjut

Memburu Gerhana (bagian ke-2)

Menurut para suhu fotografi yang tip-tipsnya saiya baca di media online, motret gerhana matahari itu gampang-gampang susah. Dari sisi peralatan, keberadaan ND solar filter yang dapat meredam derasnya sinar matahari emang mutlak diperlukan – karena kalo nekat ndak pake filter tersebut, sensor kamera akan jebol. Begidulah katanya. Kalo sampiyan ndak percaya, silakan dicoba aja.

Di sisi lain, mata kita juga harus dilindungi dengan menggunakan kacamata khusus biyar ndak terjadi kerusakan. Mau ndak mau saiya juga harus mbeli kacamata tersebut. Cuman cilakanya saiya ndak isah mendapatkannya. Sempat terpikir tuk mbeli kacamata yang biasa digunakan oleh tukang las, namun niat itu saiya urungkan. Dan akhirnya saiya mbeli kacamata netral biasa seharga 15ribuan yang kemudian saiya modifikasi agar aman digunakan untuk nglihat gerhana.

GB5 Baca lebih lanjut

Memburu Gerhana

Lusa bila Tuhan ndak berkehendak lain, Gerhana Matahari Total (GMT) dan Gerhana Matahari Sebagian (GMS) akan dapat dilihat di beberapa wilayah di negeri ini. GMT/GMS ini terjadi karena cahaya matahari terhalang oleh bulan sehingga ndak isah nyampe ke bumi. 33 tahun yang lalu, tepatnya di tanggal 11 Juni 1983 – saiya pernah menyaksikan terjadinya GMT yang melintas di pulau Jawa. Saat itu saiya masih kelas III SD (10 tahun), yang tentu saja ndak berani keluyuran di luar untuk nglihat gimana proses berlangsungnya GMT tersebut. Saiya cuman berani menyaksikannya lewat tayangan yang disiarkan oleh Televisi Republik Indonesia (TVRI). Kini kembali saiya akan merasakan hal yang kurang lebih sama dengan kejadian di 33 tahun lalu tersebut…, bedanya bukan GMT tapi GMS. Jahh…., Jakarta cuman dapat gerhana sekitar 88,76%. Baca lebih lanjut

Tragis

Syahdan saiya-pun cuman bisa menepuk jidat saiya. Disaat dini hari tadi saiya nungguin El Classico jilid 1 di musim ini, mendadak terjadi hiruk-pikuk pemberitaan di televisi terkait dengan ditangkapnya “Sang Presiden” salah satu parpol oleh petugas KPK.  Ceritanya, yang bersangkutan “patut diduga kuat” terlibat dalam kasus penyuapan.  Wajar atau ndak tindakan saiya yang nepuk jidat itu, saiya ndak teu. Namun….bila entar itu benar-benar terbukti secara meyakinkan di pengadilan, maka alasan saiya menepuk jidat saiya sendiri ini tentunya pada saatnya akan bisa dipahami sebagai tindakan yang wajar tanpa pengecualian. Dan sejenak pemberitaan tentang hingar-bingar sebelumnya tentang banjir Jakarta, meninggalnya  anak dibawah umur akibat tindakkan bejat bapaknya sendiri itu…sampai dugaan penyalahgunaan obat-obatan terlarang seorang artis tenar di negeri ini pun berkurang gaungnya. Semua tajuk pemberitaan di media massa hari ini membicarakan masalah “Sang Presiden” yang berinisial “LHI” itu.

Apa lacur…nasi udah menjadi bubur.

bubur Baca lebih lanjut

Tegar dan Sok Bijak

laki-lakiSaiya ndak teu, apakah yang saiya tulis kali ini ada manfaatnya buat sampiyan atau endak….- namun, kalau dilihat dari susunan kalimatnya, kayaknya cukup lumajanlah untuk sekedar me-refresh-kan sejenak hati dan benak.  Sebenarnya ini adalah “kumpulan status” yang saiya pajang di wall facebook saiya dalam kurun waktu tertentu di beberapa bulan yang lalu. Saiya mencoba mengingat kembali suasana kebatinan saiya pada saat menuliskan status-status itu…, ternyata ndak ada satupun yang saiya ingat :mrgreen:   Tapi kalau sampiyan berkenan meluangkan sedikit waktu untuk agak serius dalam membacanya, maka sampiyan akan bisa menangkap apa yang saiya maksudkan. Jahh…minimal bisa menduga-dugalah😆

Anyway…, ini cuman permainan logika dari dari beberapa kata bijak yang sering dikutip dalam sebuah percakapan atau serangkaian aksi penyemangat yang diperdendangkan oleh seseorang yang kondisi kadar kebijakannya kebetulan lebih baik terhadap yang lainnya pada suatu masa. Saiya katakan pada suatu masa, karena saiya meyakini bahwa setiap orang tentunya pernah mengalami “gangguan mental” akibat permasalahan yang melanda atau kesusahan yang mendera. Bahkan seseorang seperti Andri Wongso, Tung Desem Waringin, Gede Prama atau orang sekaliber Mario Bros Teguh pun dalam episode kehidupannya pada beberapa bagian pernah hati dan pikirannya kalut kalau ndak percaya silakan tanya ajahh sendiri pada mereka. Dan pada umumnya,  jika seseorang ndak isah memotivasi dirinya sediri ketika terjerembab di padang duka, seseorang akan mencoba mencari kata-kata bijak untuk meningkatkan kadar semangatnya supaya terhindar dari upaya mengakhiri hidupnya sendiri tanpa bantuan orang lain a.k.a bunuh diri.

Baca lebih lanjut

Balada Musik Dangdut (Jangan Tanyakan Mengapa – jilid 2)

dangdut1Lhahhh…kok bisa begidu yak..??” – Pertanyaan seperti ini atau sejenisnya sering-kali hinggap di benak saiya menakala melihat kesukaan seseorang terhadap sesuatu hal atau ketika mendengar pernyataan seseorang tentang kesukaannya itu. Awalnya saiya geleng-geleng kepala, kemudian nepuk jidat dan berakhir di ngelus dhadha. Namun sekarang ini saiya sudah nyampai pada tingkatan “bisa memahami” atau setidaknya berusaha untuk bisa memahami tentang hal tersebut.

Jahh…seperti yang saiya bilang di postingan sebelumnya, bahwa ketika saiya mempertanyakan “mengapa”-nya atas kesukaan seseorang  terhadap sesuatu hal yang mereka sukai – yang menurut saiya ada unsur keanehan dalam hal kesukaanya tersebut, maka yang saiya dapati biasanya adalah jawaban yang ndak masuk akal bin terkesan susah dinalar dan menyimpang dari jawaban orang pada umumnya. So, kalau saiya tetap mempertanyakan “mengapa”-nya, maka ketersia-siaan atas kinerja benak saiya akan terjadi dengan sukses dan hati saiya akan ter-dzolimi. Akhirnya, sumangga kersa – silakan saja, selama itu ndak ngeggangu saiya.

Baca lebih lanjut

Antara Joko Wi, Banjir Jakarta dan Saiya

Aah….! Nya’ banjir!
Jakarta kebanjiran, di Bogor angin ngamuk
Ruméh ané kebakaran garé-garé kompor mleduk”

…. dari kejauhan Bang Bens menyenandungkan lagunya.

jakarta

Baca lebih lanjut

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

%d blogger menyukai ini: